Atasi Ancaman Gizi Buruk YPN Adakan Survei

0
130
Ilustrasi Gizi Buruk Pada Anak (Foto : Google)

INDRAGIRI.com, NASIONAL – Yayasan Peduli Negeri (YPN) melakukan pengumpulan data di masyarakat kota Kendari untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang susu kental manis. Survey ini dilakukan mengingat di di Kendari ditemukan sejumlah balita menderita gizi buruk akibat mengkonsumsi susu kental manis.

Sebagaimana diketahui, awal 2018 Kendari di hebohkan oleh temuan balita penderita gizi buruk akibat mengkonsumsi susu kental manis. Sepanjang Januari, 3 balita penderita gizi buruk dirawat di RSUD Bahtera Mas Kendari. Ketiganya adalah Arisandi (10 bulan), asal  Desa Ulu Pohara, Kecamatan Lahungkumbi, Kabupaten Konawe, Muhammad Adam Saputra (7 bulan) dan Muharram yang berumur 4 bulan.

Arisandi mengkonsumsi susu kental manis sejak berusia 4 bulan. Setelah beberapa bulan mengkonsumsi susu ini, ia mengalami gejala luka-luka pada kulit dan alergi akibat kekurangan nutrisi. Meski sudah mendapat pertolongan medis, namun nyawanya tetap tidak tertolong. Arisandi meninggal pada akhir Januari lalu.

Kasus kedua menimpa Muhammad Adam Saputra (7 bulan),  yang pada saat ditemukan tinggal di Kecamatan Mandonga, Kota Kendari.  Orang tua Adam tidak mampu membelikan susu bayi sehingga akhirnya Adam diberikan susu kental manis yang harganya lebih ekonomis. Dampaknya, berat badan Adam semakin hari semakin menurun hingga 4,8 kg dan dirawat di RSUD Bahtera Mas.

Kasus ketiga menimpa Bayi Muhammad Muharram umur 4 bulan. Warga jalan Sao Sao, Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari itu mengalami gizi buruk karena keterbatasan Ekonomi. Untuk mencukupi kebutuhan gizi sang anak, pilihan orang tua jatuh pada susu kental manis.

Menurut Data WHO 2010, Di Indonesia ada sekitar 8,81 juta anak kurang gizi. Provinsi dengan prevalensi gizi buruk tertinggi adalah Nusa Tenggara Barat 48,01%, Sulawesi Barat 45,98% dan Provinsi Sulawesi Tenggara 38,89%. Menurut Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2016 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI melalui website www.depkes.go.id, gizi buruk muncul disebabkan daya beli yang rendah, akses terhadap pelayanan kesehatan serta pengetahuan orang tua dan sosial budaya setempat.

Maria Ulfa, Bidan Koordinator Puskesmas Pondidaha, Kec. Pondidaha, Kab. Konawe yang turut serta mengawasi kesehatan Arisandi mengatakan penyebab gizi buruk di daerahnya adalah faktor pengetahuan dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk memberikan asupan makanan bernutrisi untuk keluarga.  Penggunaan susu kental manis untuk gizi keluarga adalah salah satunya. “Dalam setiap kesempatan, baik di saat kunjungan ke rumah warga, posyandu dan kelas/ pertemuan ibu hamil, petugas selalu menyampaikan makanan yang boleh dan yang tidak boleh. Termasuk kami juga sudah sampaikan bahwa susu kaleng (susu kental manis), tidak baik untuk anak apalagi bayi dan dapat berdampak terhadap kesehatannya. Tapi masih ada saja yang memberikan untuk anak, ada tiga keluarga yang saat ini masih mengkonsumsi susu kental manis dan sedang kami dampingi agar perlahan-lahan mereka dapat merubah kebiasaan etrsebut.”  disampaikan Maria Ulfa, sebagaimana siaran pers yang diterima GagasanRiau.com.

Survey konsumsi susu kental manis oleh YPN dilakukan di Kab Mandonga, Kota Kendari Sulawesi Tenggara. YPN juga bermitra dengan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) yang memang  concern pada upaya pengentasan gizi buruk melalui peningkatan pengetahuan masyarakat.

Ketua Pengurus Harian YAICI, Arif Hidayat mengatakan bahwa saat ini pihaknya bersama sejumlah lembaga lain yang peduli dengan persoalan gizi buruk mendesak Kementerian Kesehatan dan BPOM melalui DPR untuk memberi perhatian lebih terhadap polemik susu kental manis. Bahwa telah terjadi kesalahpahaman masyarakat dalam memanfaatkan susu kental manis. “Susu kental manis seharusnya produk yang dipasarkan untuk topping makanan dan bahan pembuat kue. Namun masih banyak masyarakat yang beranggapan kental manis adalah susu dan diberikan untuk anak dan balita. Pemerintah harus tegas dan mengawasi penggunaan produk ini di masyarakat,” kata Arif Hidayat.

Sumber : Gagasanriau