CALEG FUNK | Ayong RN

0
31
Ilustrasi (google.com)

Diperlukan gaya rambut yang sesuai, untuk meyakinkan diri bahwa pemilih berpihak pada caleg yang memiliki style tertentu. Dalam istilah marketing politik ini disebut rambut merakyat.

Hari-hari setahun kebelakangan adalah hari sibuk berkaca. Berbagai jenis sisir: rapat, jarang, panjang, pendek atau sisir yang berbentuk rolling sering digunakan oleh orang-orang berambut ikal keriting. Sisir- sisir tumpang tindih didepan cermin. Minyak rambut pomade berbagai jenis: bermerek tancho, water gloss, ada juga yang bemerek santalia dan lavender. Tak ketinggalan sebuah gunting kecil dan pisau silet.

Moslaini Marka, nama yang cukup keren, dilahirkan dari pasangan berlatar belakang guru. Ayahnya guru sejarah yang cukup mengerti tentang perubahan sejarah dunia, dari zaman pra sejarah sampai era digital serba otomatis.

Sementara ibunya adalah guru biologi, bidang yang jarang diambil oleh perempuan, karena malu menjelaskan tentang topik reproduksi. Perpaduan dua gen ilmu yang melahirkan seorang anak yang berevolusi dengan caranya sendiri.

Moslaini Marka, anak tunggal bapak dan ibunya yang mengajar disekolah menengah yang sama. Tak mau mengikuti jejak karier orang tua. Kuliah dijurusan Psikologi disebuah universitas swasta. Aktif berorganisasi, dari Badan Eksekutif Mahasiswa, Organisasi sifatnya kedaerahan, sampai organisasi penggemar sepeda ontel, diorganisasi ini Moslaini menduduki posisi lumayan penting. Disamping itu Moslaini juga menjadi pengurus salah satu Parpol, tapi disini posisinya biasa-biasa saja.

Kuliahnya sudah semester delapan tapi belum ada tanda-tanda kapan wisudanya.

Masyarakat. Si pemilik suara adalah raja yang harus dipuaskan hasrat dan dituruti kehendaknya. Karena merekalah pesta demokrasi ini jadi meriah dan karena merekalah caleg-caleg seperti Moslaini tak banyak tidur siang dan malam.

Moslaini mengatur strategi. Pikiran pertamanya jatuh pada pemilih muda, karena mereka pemilih potensial, idealis, yang muda suka bertualang.

“Mengapa yang ini jadi sasaran utama, nak?” Tanya ibunya dengan raut kurang setuju sambil melihat gambar majalah remaja didepan kaca.

  “ Karena anak-anak punk, kaum marjinal” “Dalam politik marjinal adalah peluang baru, Bu”

Bukan masalah pilihan pada anak punk-nya yang membuat ibu Moslaini keberatan, tapi karena kekhawatiran pada pilihan pendekatan anaknya yang memilih rambut sebagai media utama kampanye.

Kekhawatiran itu terbukti, dengan senyum meyakinkan Moslaini memamerkan rambut gaya mohawk sambil mengacungkan jari didepan kaca, layaknya Hitler masih muda.

Tak lama setelah itu fhoto profil di facebook, Blackberry wa, instagram turut berubah. Dengan mengusung jargon memihak pada kaum marjinal. Banyak komentar; mendukung, menentang, mengejek.

Rambut dipangkas habis sisi kanan kiri pelipis sampai belakang kepala, yang membuat tambah semarak adalah warna rambut, oren campur merah, jadinya kemerah-merahan, aksesori yang dipakai menyesuaikan dengan warna jaket partai yang juga semarak.

Baleho Moslaini Marka pun dipasang dimana-mana, belum ada larangan dari panwas, karena memang belum terbentuk.

Dibantu kawan-kawan Moslaini mulai mensurvey, turun kelapangan mewawancarai satu persatu pemilih. Hasilnya mencengangkan; hanya satu dari seratus dari warga biasa akan memilihnya, elektabel Moslaini sangat rendah untuk kalangan awam.

Tapi untuk komunitas punk membuat gaya kampanye Moslaini tak sia-sia, empat dari lima mereka yang bergaya punk akan memilihnya.

Tapi disayangkan juga, hasil survey mengungkapkan,hanya satu dari duapuluh anggota punk yang terdaftar di Daftar Pemilih Tetap dan Cuma satu dari sepuluh mereka yang memiliki KTP.

Moslaini dan team sukses bergerak cepat, rapat khusus digelar, ibu Moslaini dan pembantu juga tak ketinggalan, mondar-madir dari dapur keruang tamu mengangkat hidangan, layaknya seksi konsumsi. Sebagai anak satu-satu ibunya, wajar saja Moslaini sangat dimanjakan, meski pagi-pagi harus kesekolah, sebagai guru yang bersertifikasi jadwal mengajarnya sangat padat.

Moslaini seorang yang visioner kadang juga revolusioner, jika sesuatu harus diubah ya harus berubah. Begitulah prinsipnya. Walau kalau dilihat dari nama ia bukan seorang moderat, Bapaknya mengambil nama Moslaini dari Benito Mossolini tokoh Perang Dunia ke 2, diktator memang. Meski pemimpin Italia ini berada dipihak yang kalah, beliau tak mengharapkan seperti itu untuk anaknya.

Harapan bapaknya, Moslaini menjadi seorang yang tegas, pekerja keras, memikirkan orang banyak tidak individualistis, maka tak lupa ditambahkan nama seorang tokoh sosialis didepan nama anaknya. Karl Marx; pemikir Jerman. Dari Nama tak diragukan lagi. Nama pemimpin tenar pada masanya.

Gaya rambutpun dievaluasi, gaya ilmuan layaknya Albert Einstein juga dibicarakan, dilaksanakan dan dievaluasi, juga tak mendongkrak hasil survey, karena rambut seperti ini tak jauh beda dengan komunitas punk Cuma beda warnanya saja.

Dengan gaya rambut disisir dari depan kebelakang, seperti gaya mafioso difilm-film Hollywood juga dipilih, dilaksanakan dan hasil surveynya tetap tak beranjak dititik semula, bahkan mayoritas caleg menolak gaya rambut seperti ini, karena tampa rambut seperti mafiapun masyarakat telah berasumsi kearah sana.

Dengan rambut belah samping yang biasanya jadi model kalangan profisional juga dilaksanakan, gaya rambut seperti ini meyakinkan, terkesan intelek. Pada awalnya survei ada peningkatan tapi pelan-pelan menurun karena banyak caleg yang menggunakan pendekatan materi sehingga banyak pemilih pada awalnya profisional dan rasional menjadi irasional. Pemilih selalu berubah pendirian jika lihat rupiah, semakin besar nilai semakin cepat berubah pendiriannya.

Hampir semua gaya rambut telah dicoba, setiap model melalui hasil rapat team sukses, lalu disosialisasikan melalui kartu nama, baleho, poster atau melalui media sosial FB ,BB, wa dan instagram lalu disurvey dan dievaluasi, begitu terus menerus. Diantara semua gaya rambut tak ada yang memenuhi harapan dan hitungan secara politik. Politik adalah dunia panggung, ukuran keberhasilannya berdasarkan ramainya penonton bukan kualitas penonton.

Akhirnya rapat team memutuskan; pendekatan gaya rambut diakhiri, mereka memilih untuk menutupi sebagian rambut Moslaini dengan peci, karena peci bukan rahasia umum lagi bisa menambah kharisma seseorang. Awalnya Moslaini keberatan, karena secara moral dan kematangan jiwa ia belum sampai kearah harus memakai peci.

“Ini politik bro!” Salah seorang team sukses menyemangati Moslaini.

Politik; dunia yang penuh hentakan. Kadang manusia harus jujur, harus tulus, harus pura-pura: jujur dan tulus.

“Jika memang kepura-puraan bisa menghantar kearah perubahan yang lebih baik, apa salahnya dicoba” Moslaini membatin.

Keputusan menerima disambut cukup gembira oleh team sukses. Seperti biasa disosialisasikan melalui kartu nama, poster, spanduk, baleho, facebook, blackberry,wa instagram. Berpeci hitam, tersenyum ramah dan yang buat kali ini beda dari sebelumnya adalah semua media kampanye sudah memakai nomor urut dan penggunaannya harus melalui aturan KPU dan diawasi Panwas. Hasil suevey ada gejala kenaikan meski tak menanjak tajam. Membuat senyum Moslaini kian mekar.

Setiap orang menyambut riang pesta lima tahunan ini, membuka lebar-lebar pintu seiring menyinsingnya pajar. Team suksespun tak ketinggalan kesigapannya, berkeliaran kesana-kemari menuju alamat, berpacu sebelum kokok ayam.

Waktu menjelang pagi terasa singkat. ‘Menaklukkan pagi sebelum matahari’ begitulah kira-kira sandinya.

Pesta yang ditunggu-tunggupun tiba, layaknya musim panen. Semua bahagia.

Pemilu; langsung, umum, bebas dan rahasia plus hadiah, bonus dan door price. Bahkan door price diperoleh sebelum arena pemilihan. Layaknya pesta, penuh elu-elu sorakan keceriaan rakyat, kecil dan besar.

Berbagai kejadian lucu didalam bilik pencoblosanpun berlangsung, ada yang coblos gambar juga namanya, ada yang memejamkan mata sambil mengikuti naluri kemana paku itu diarahkan, ada yang kebingungan mencari nama caleg karena tak ada gambarnya, ada juga yang mencoblos nomor urut satu sampai 12 alasanya; karena semua caleg dipartai itu semuanya saudara.

Ada juga yang mencoblos semua Partai karena merasa semuanya telah menabur jasa.

Ada juga yang diam-diam berkhianat memilih partai lain yang bukan seperti yang pernah iajanjikan.

Semua tingkah-polah berlangsung damai dan mengalir. Ini memang pesta. Pesta Demokrasi, Kerakyatan, Makmur dan Sentosa. Walau hanya sejenak.

Selesai pencoblosan, dilanjutkan perhitungan suara. Lamban dan menghentak.

Lamban karena karena panitia harus hati-hati. Dikerubuti sekian banyak saksi fatal akibatnya jika salah apalagi disengaja. Menghentak; ketika kertas suara dilubangi tidak sesuai harapan.

Moslaini, kecewa. Sesekali menarik nafas dalam-dalam, menggelengkan kepala kekiri-kekanan dengan hentakan, sampai terdengar letupan tulang leher, senam yang cukup ampuh menghilangkan jenuh, leher, kuduk dan kepala tersa agak ringan.

Jauh meleset dari perkiraan, suara untuk Moslaini Marka hanya ratusan, jauh dari harapan “duduk” dikursi legislatif yang butuh sekian ribu suara.

Yang lebih mengecewakan TPS dekat rumahnya, memperoleh hanya lima suara, jika dihitung secara kasar saja, ada sepuluh orang team suksesnya terdaftar memilih di TPS itu. Ada yang berkhianat, ada yang memainkan gunting dalam lipatan. Katerlaluan!

Sampai tengah malam Moslaini menunggu keajaiban, kawan-kawannya satu persatu pamit minta ijin pulang. Keajaiban yang diharapkan semakin subuh semakin menjauh. Laporan dari kawan-kawan di TPS lain juga sangat menyesakkan.

Beranjak pelan menuju pintu kamar, menghentakkan kuat-kuat tubuh lunglainya tempat tidur. Lelap dengan mimpi yang juga mengecewakan.

Ketika Moslaini terbangun matahari sudah tegak dibumbung rumah. Mencoba mengingat mimpi, tapi makin kabur.

Dikamar mandi Diguyurkan air beberapa gayung ketubuh, tak kuasa lagi ia menggosokkan badannya, lalu ia keluar, menuju kearah cermin. Berkaca sambil memegang gunting kecil, mulai membuang lembar demi lembar rambut sampingnya, sehingga licin sampai kebelakang kepala. Dioleskan pewarna rambut oren dan merah, dioleskan juga minyak rambut dengan kedua telapak tangan menekan supaya ujung rambut melancip pas ditengah kepala.

“ Mohawk “ inilah rambut yang paling dominan dikomunitas punk. Batinnya membayangkan perkumpulan itu, yang keberadaannya dikesampingkan. Dengan pelan motor RX King dihidupkan, hatinya ingin menuju kekomunitas marjinal itu.

Ibundanya terbelalak sejenak didepan pintu, sesaat setelah itu matanya nanar sambil berpaut erat   di daun pintu.

Hari berlalu dengan penuh beban rasa bagi sebagian jiwa-jiwa yang telah bekerja.

Sungai Beringin Parit 17,   April 2014 (LUBER dengan segala Bonusnya)