Hakikat Beribadah

0
1738
Ilustrasi (foto : pixabay.com)

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya mereka menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (Q.S. Al Bayyinah: 5)

Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna dan paling lengkap dalam penciptaanya, baik secara fisik, maupun mental. Secara fisik, kelengkapan yang diberikan kepada manusia ialah adanya berbagai macam indra yang diberikan Allah untuk dapat menjalankan kehidupannya. Secara mental, manusia diberikan kelengkapan luar biasa yang tidak pernah diberikan kepada makhluk manapun, yaitu akal. Akal adalah sarana yang mempunyai fungsi  yang sangat urgen bagi manusia. Dengan kelengkapan fisik dan mnetalnya itu, manusia diberikan kewenangan oleh Allah SWT untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Pemberian kewenangan kepada manusia sebagai khalifah itu didukung oleh kelengkapan fisiknya untuk melaku-kan, membuat, mengubah dan mengatur segala sesuatu yang ada di muka bumi ini agar sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Akal memberikan inspirasi agar keleng-kapan fisik-nya itu dapat melakukan, membuat, mengubah dan mengatur segala sesuatu.

Akallah yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lainnya. Karena akalnya, manusia dapat berkreasi dan memiliki sifat dinamis. Dengan akal, manusia dapat me-mikirkan dan memutuskan, walaupun dengan keterbatasan-nya, apa yang baik bagi dirinya dan apa yang buruk, apa yang menyenangkan dan apa pula yang menyengsarakannya.

Allah SWT dalam menciptakan manusia disertai ber-bagai kelengkapan seperti itu, pada hakikatnya mempunyai tujuan tertentu, yaitu agar manusia mengabdi dan menyembah kepada-Nya.

Beribadah secara harfiyah berarti taat, tunduk, menurut, mengikut, dan doa. Pada hakikatnya mengandung pengertian bahwa manusia harus mengikuti dan mematuhi segala aturan yang diturunkan Allah kepada mereka, perintah-perintah-Nya harus dilakukan dan larangan-larangan-Nya harus ditinggalkan, dan dengan begitu mereka mendapat ridho-Nya.

Dari sinilah maka para ulama memberikan penekanan pada pengertian ibadah itu sesuai dengan visi mereka masing-masing. Ulama Tauhid, misalnya menyatakan bahwa ibadah itu pada hakikatnya adalah meng-esa-kan Allah SWT dengan sungguh-sungguh, merendahkan diri kepada-Nya dan menun-dukkan jiwa setunduk-tunduknya kepada Allah.

Sementara Ulama Fiqh menyatakan bahwa ibadah adalah semua bentuk pekerjaan yang bertujuan untuk mem-peroleh keridhoan Allah SWT dan mendambakan pahala dari-Nya di akhirat. Ibadah pada hakikatnya menurut Prof. Dr. H. Umar Syihab adalah menumbuhkan kesadaran diri manusia untuk menyatakan bahw ia adalah makhluk dan hamba Allah SWT yang diciptakan untuk mengabdi kepada Allah SWT.

Manusia dihidupkan lalu dimatikan oleh Allah pada hakekatnya agar manusia dapat diuji dan dinilai siapa di antara mereka yang pengabdian dan penghambaan dirinya lebih tinggi, yaitu pengabdian yang dilakukan dalam bentuk amal-amal kebajikan dan kebaikan.

Agama dalam pandangan Islam adalah aturan-aturan yang diturunkan oleh Allah SWT untuk mengatur kehidupan manusia agar mereka dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Agama memberikan tuntunan yang jelas kepada manusia mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang harus dikerjakan dan mana pula yang harus ditinggalkan, mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan. Tuntunan agama memberikan arah yang benar yang harus ditempuh oleh manusia, baik urusan duniawi maupun untuk mempersiapkan diri menghadapi pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT di akhirat nanti.

Tuntunan-tuntunan agama mengharuskan manusia untuk meyakini hal-hal yang gaib, yang tidak dapat dijangkau olrh akal, atau boleh jadi tidak dapat diterima oleh akal, bahkan diingkari kebenarannya oleh akal. Tuntunan agama yang berkaitan dengan hal-hal gaib, di dalam Islam disebut dengan Arkanul Iman (keimanan), sedangkan tuntunan agama yang mengharuskan seseorang melakukan perbuatan tertentu seperti pengakuan terhadap adanya Allah dan Muhammad utusan Allah, mengerjakan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, mengerjakan haji disebut Arkanul Islam. Tuntunan agama juga mengharuskan seseorang untuk berbuat ihsan (kebaikan), yaitu tuntunan yang menghendaki agar seseorang  melakukan sesuatu yang baik atau kebajikan, yang di dalam Islam disebut al-Ihsan.

Beragama yang diwujudkan dalam bentuk amal shaleh dan ibadah pada hakikatnya mengandung 3 efek utama.

Pertama: Sebagai bentuk perwujudan pernyataan syukur manusia atas segala kenikmatan yang diberikan kepada mereka, yang tidak ternilai harganya. Kenikmatan-kenikmatan itu begitu banyak dan luasnya sehingga tidak mungkin manusia untuk menghitung jumlahnya, dan tidak mungkin dapat dibayar dan diganti oleh manusia dengan apapin.

Kedua: Sebagai pernyataan dan penyerahan diri manusia kepada Allah SWT dengan penyerahan yang sesung-guhnya dengan cara melaksanakan berbagai perintah dan meninggalkan berbagai larangan Allah.

Ketiga: Semua yang dilakukan manusia itu pada akhirnya dampak dan manfaatnya akan kembali kepada diri mereka sendiri bukan untuk orang lain. Ini berarti bahwa semua kewajiban yang dibebankan kepada manusia pada hakekatnya untuk manusia itu sendiri.

Kepatuhan manusia terhadap perintah-perintah Allah dan keengganan mereka untuk patuh kepada-Nya tidak akan menambah dan mengurangi kebesaran dan keagungan Allah. Ibadah dan pengabdian manusia kepada Allah semuanya akan kembali kepada diri mereka, dan manfaat dari semua itu pada akhirnya pasti akan dirasakan oleh manuia itu sendiri.

Pengamalan seluruh rangkaian ibadah dlam Islam pada hakekatnya bertujuan mengantarkan manusia muslim kepada pencapaian dua kebahagiaan yang sangat agung yaitu bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Allahu A’lam Bi Asshawab

Sumber : Buku Hidup Sekali Hiduplah yang Berarti, Terbitan MUMTAZ