Kartini dan berbagai Kontraversinya

0
112
Patung Kartini (foto : wikipedia.com)

INDRAGIRI.com, OPINI – Ketika nama Kartini disebut maka yang terbayang dalam benak kita adalah sosok wanita pejuang yang tangguh, gigih, antusias terhadap pendidikan dan ilmu pengetahuan. Kartini terlahir pada 21 April tahun 1879 di Kota Jepara, masa penjajahan Belanda itu.

Ayah Kartini bernama R.M. Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, seorang bangsawan yang menjabat sebagai bupati jepara, ibunya bernama M.A. Ngasirah, beliau ini merupakan anak seorang kiai atau guru agama di Telukawur, Kota Jepara. Menurut sejarah, Kartini merupakan keturunan dari Sri Sultan Hamengkubuwono VI, bahkan ada yang mengatakan bahwa garis keturunan ayahnya berasal dari kerajaan Majapahit.

Ibu R.A Kartini yaitu M.A. Ngasirah sendiri bukan keturunan bangsawan, melainkan hanya rakyat biasa saja, oleh karena itu peraturan kolonial Belanda ketika itu mengharuskan seorang Bupati harus menikah dengan bangsawan juga, hingga akhirnya ayah Kartini kemudian mempersunting seorang wanita bernama Raden Adjeng Woerjan yang merupakan seorang bangsawan keturunan langsung dari Raja Madura ketika itu.

Nama Kartini dikenal karena surat-suratnya, surat tersebut dia tulis untuk sahabat korespondensinya, Nyonya Rosa Abendanon-Mandri, istri Direktur Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda. Dalam surat bertarikh 27 Oktober 1902, Kartini berapi-api menuliskan pikiran dan perasaannya.  Bahkan, Kartini juga menulis hal-hal yang kontroversial seperti soal yang intim dan  minoritas Cina. Surat itu sampai disensor oleh  J.H. Abendanon yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan dan tak diterbitkan.

Tidak adanya naskah asli surat-surat kartini, penerbitan buku pada era Belanda ditambah lagi dengan tidak terlacaknya keturunan J.H. Abendanon oleh pemerintah Belanda menimbulkan kecurigaan dari banyak kalangan bahwa surat-surat kartini tersebut merupakan rekayasa pihak Belanda dalam upaya menyusupkan paham-paham yang diharapkan dapat mendobrak tradisi yang selama ini berlaku di lingkungan masyarakat Indonesia, khususnya di daerah Pulau Jawa.

Bahkan ada juga yang mengkritisi tentang sikap yang diambil Kartini terhadap pembatasan yang dilakukan oleh orang tuanya. Kartini dinilai sebagai seorang perempuan pingitan yang mudah menyerah. Tidak nampak kemerdekaan jiwa pada dirinya. Tidak nampak perlawanannya terhadap perlakuan feodal kalangan bangsawan Jawa yang mengesampingkan atau menomorduakan peran kaum perempuan.

Jika kita mau jujur selain Kartini banyak sekali tokoh-tokoh perempuan Indonesia yang tidak kalah hebatnya dari Kartini dalam perjuangannya, sebut saja Cut Nyakdien, Dewi Sartika, Martha cristina, Syaikha Hj. Rahmah El-Yunisiyah, Rasuna Said, dan masih banyak lagi, yang berjuang memanggul senjata mengusir penjajah, sebagian kalangan menganggap penetapan Kartini sebagai Pahlawan Nasional dan ditetapkan hari kelahirannya sebagai hari besar merupakan diskriminasi.

Pada tanggal 2 Mei 1964, presiden soekarno melalui keputusannya No. 108 Tahun 1964 tanggal 2 Mei 1964, Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional ke-23. Dan hari lahirnya pada 21 April diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. (*)

Sumber : ABUZAHEN.com