Menyoal Program Tanpa Konsep (Magrib Mengaji di Indragiri Hilir)

0
140
Ilustrasi Mengaji (Foto : Republika/Tahta Aidilla)

INDRAGIRI.com – Dari tujuh item program Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Indragiri Hilir priode 2014-2019 salah satunya adalah Maghrib mengaji. Maghrib mengaji merupakan program yang dipandang sangat mewakili dari sosok seorang H. M. Wardan yang dikenal sangat agamis oleh kalangan masyarakat Inhil umumnya. Dalam pemilu lalu item program ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat sehingga banyak masyarakat serta tokoh agama diberbagai pelosoknya menaruh harapan lebih.

Hemat saya hadirnya program ini setidaknya ada dua alasan yang mendasar, pertama; hilangnya tradisi yang telah diwarisi oleh nenek moyang kita dahulu dimana ketika usai melaksanakan shalat maghrib dilanjutkan dengan kegiatan mengaji di masing-masing rumah. Kedua; minimnya pemahaman keagamaan masyarakat terutama tentang Al-qur’an serta kandungan di dalamnya. Terlebih dengan bertambahnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tampak begitu nyata merubah pola, gaya serta kebiasaan baik yang selama ini pernah ada. Oleh karena itu hadirnya program semacam ini merupakan sikap yang tepat untuk mengembalikan tradisi yang baik agar tetap ada dan terus dikembangkan.

Mengurai Masalah
Lebih kurang satu tahun sudah berjalannya program maghrib mengaji, mungkin tiada salah jika kita baca kembali dengan cara orientasi dan reformulasi. Artinya ada upaya-upaya yang dilakukan secara sistematis untuk melihat tentang apa yang sudah dilaksanakan. Jadi, perlu kiranya semacam studi kritis tentang konsep yang telah berjalan untuk diuji efektifitasnya terhadap hasil yang diinginkan.

Terkait apa sesungguhnya hasil yang diinginkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Inhil hampir semua kita tidak mengetahuinya, maka tidak salah jika saya katakan bahwa ini adalah program tanpa konsep. Dan hal inipun bisa kita lihat dalam kualitas pelaksanaannya yang berjalan begitu tradisionalis tanpa arah dan tujuan yang terukur.

Dalam hal ini peran pemerintah terlihat hanya sebatas memberikan honor dan memberikan fasilitas al-qur’an dan buku iqra’ kepada kelompok-kelompok mengaji dan terkadang juga ada menimbulkan persoalan baru terutama persoalan pendataan yang tidak merata, pindahnya kegiatan mengaji dari rumah kesurau atau masjid membuat guru jadi jadi kecewa dan menutup kegiatan mengaji dirumahnya, kemudian juga perdebatan antara honor dan keiikhlasan.

Bicara maghrib mengaji dalam konteks kekinian sebenarnya kurang tepat jika masih menggunakan pendekatan tradisionalis. Akan tetapi harus dikelola dengan konsep yang lebih modern, kenapa demikian, karena tantangan dan kebutuhan zaman sudah berbeda. Saat ini persoalan al-qur’an tidak lagi bisa digiatkan hanya sebatas evoria-simbolik, tapi harus masuk keranah subtansi, artinya ada bangunan konsep atau ide yang betul-betul sistematis karena ending dari sebuah program adalah hasil (out put) terlebih program yang digagas oleh pemerintah tentu memiliki visi, misi serta alur yang sistematis, rasional, dan hasilnya bisa dievaluasi, tingkat pencapaiannya bisa diukur.

Oleh karena itu, persoalan ini menjadi penting (urgen) untuk kita percahkan, sebab jangan sampai program yang digagas oleh pemerintah daerah tidak lebih kreatif dari program yang dibuat oleh masyarakat di level RT yang mengalir tanpa arah.

Antara Kebutuhan dan Tuntutan
Lahirnya program yang terkonsep , terukur, dan terencana merupakan sebuah keharusan, terlebih al-qur’an adalah sumber yang mengatur tata nilai kehidupan manusia sehingga dituntut untuk lebih terarah dalam pelaksanaan dan tidak semata terjebak ke dalam gerakan simbolik yang cenderung mengarah kepada persoalan struktural-politis akan tetapi lebih kepada arah kultual-agamis.

Hemat saya inilah sebuah komitmen tulus untuk daerah yang harus di kedepankan, karena sesungguhnya program semacam ini titik tekannya bukan hanya semata mengembangkan tradisi agama yang pernah ada, akan tetapi ini merupakan sebuah usaha pemerintah dalam menyelaraskan fitrah kemanusiaan terhadap sebuah ajaran yang seharusnya ia terapkan dan jiwai dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu semangat maghrib mengaji tidak hanya sebatas semarak mengaji dirumah-rumah di petang hari akan tetapi bagaimana ajaran dan nilai-nilai dalam al-qur’an itu sendiri dapat diterapkan di alam nyata. Inilah yang menjadi kebutuhan bagi setiap muslim secara individu maupun sosial.

Namun, di sisi lain kita juga harus melihat serta memenuhi tuntutan terhadap program nasional dan daerah seperti agenda Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) misalnya yang diadakan setiap tahun dengan berbagai macam cabangnya. Oleh karena itu muara gerakan program ini tidak bisa hanya dibuat sebatas mengembalikan semangat tradisi, akan tetapi harus juga sekaligus menjawab kebutuhan zaman bahkan menjawab tantangan zaman. Kenapa misi ini menjadi penting, karena selama ini tidak ada pembinaan yang jelas dan terarah semuanya berposes secara alami tanpa dorongan serius dari pemerintah sehingga ketika sampai saat musim perlombaan pihak pemerintah terkesan hanya mengambil sumberdaya yang sudah jadi dan dibina oleh kelompok-kelompok yang selama ini tak pernah mendapatkan perhatian dalam proses pembinaan, ini sungguh ironis.

Mencari Formulasi  yang  Efektif
Beranjak dari persoalan di atas, maka kita perlu mencari formulasi konsep yang lebih efektif dan efesien, rasional dan mungkin bisa terlaksanakan secara teknis serta bisa dicapai target secara jelas. Oleh karena itu, terhadap model pendekatan tradisional yang sudah berjalan satu tahun kebelakang ini saya memandang perlunya evaluasi kearah yang lebih sistematis dan terukur karena sebuah program yang dibuat harus memperhitungkan di beberapa dimensi waktu dan kebutuhan, tidak semata hanya motif semangat tapi lebih kepada proses dan hasil. Atas dasar ini saya berpendapat bahwa program maghrib mengaji perlu kita terjemahkan kembali dalam bentuk pelembagaan seperti Taman Pendidikan al-qur’an (TPA) atau Taman Pendidikan Seni Baca al-qur’an (TPSA) dan sejenisnya. Lembaga ini betul-betul di fasilitasi secara lengkap, dengan sumberdaya pengajar yang mumpuni, sistem dan kurikulum yang terarah.

Dengan sistem pelembagaan ini mungkin kita berpikir akan menguras biaya yang lebih besar, sebenarnya tidak, karena pelembagaan ini akan dibangun di setiap desa dengan memperhatikan luas wilayah serta sebaran penduduk. Konsep seperti ini bila dibandingkan dengan pola yang telah berjalan selama ini tentu lebih baik dan terukur barangkali akan lebih sedikit biaya, tapi tingkat pencapaiannya bisa dievaluasi. Kalau memang mau lebih menghemat jadikan pilihan antara program menghrib mengaji dengan pola tradisionalis dan sistem pelembagaan ini. Dan kalau anggarannya memungkinkan tentu sebaiknya dijalani keduanya.

Jadi, munculnya tawaran semacam ini tidak lain adalah hanya semata-mata atas dasar pertimbangan efektifitas, efesiensi serta terwujudnya hasil yang sama-sama kita harapkan. Karena untuk apa sebuah program yang berjalan secara merata dengan memakai anggaran yang ada tapi pencapainya tidak bisa diukur serta menjawab kebutuhan-kebutuhan agenda daerah kedepan terutama pembinaan dan pengembangan terhadap generasi yang qur’ani.

Penulis : Ahmad Tamimi (Koordinator Institut Bertuah)