Air Mata Surga | Sudirman Anwar

0
111

Ia bukanlah air mata biasa, ia air yang istimewa. Pemilik air ini akan dijauhkan Allah sejauh-jauhnya dari neraka. Akan mendapatkan naungan, disaat tidak ada lagi naungan selain naungannya, akan mendapatkan perlindungan dimana tidak ada lagi perlindungan selain perlindungannya. Inilah tetesan air mata para perindu surga yang merindukan setiap pertemuan demi pertemuan dengan Tuhannya. Tetesan air mata yang akan membawa pemiliknya menuju kampung halaman abadi.

Sebagai makhluk yang lemah kita tentu Pernah menangis? Paling tidak sekali sewaktu kita terlahir ke muka bumi. Namun dari sekian banyak tangisan yang pernah kita tumpahkan itu, sudah berapa banyakkah dari tetesan-tetesan itu yang bakal akan menyelamatkan kita dari azab Allah SWT.

Dalam Islam, air mata sangat berharga nilainya jika ia tumpah karena penyesalan , karena kerinduan pada sang Maha Kekasih. Menyiram kegersangan taman hati dan jiwa, serta qalbu yang gersang dengan berbagai nista hingga perlahan pupus, bagaikan debu-debu yang hanyut terbawa arus oleh butiran-butiran do’a yang dimunajatkan kepada-Nya.

Sungguh air mata yang mengilir saat khusu’ dihadapan Allah SWT sangat mahal harganya, bahkan salah satu dari dua tetesan yang disukai Rasulullah saw. adalah air mata yang mengalir karena rasa takut dan rindu kepada Allah SWT. Beliau, kekasih Allah, merengguk, menumpahkan air mata karena penuh harap untuk berjumpa dengan-Nya. Abu Bakar ash-Shidiq ra. pun senantiasa sesegukan ketika menegakkan sholat.

Hasan al Banna juga pernah menguraikan air matanya karena memikirkan ummat ini. Betapa sang mujahid menginginkan agar ummat mengetahui bahwa mereka lebih dicintai daripada dirinya sendiri, sesaat pun kami tidak akan pernah menjadi musuh kalian. Betapa bangganya beliau ketika jiwa-jiwa ini gugur sebagai penebus kehormatan mereka, atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan dan terwujudnya cita-cita Islam. Rasa cinta yang mengharu-biru hati, menguasai perasaan bahkan mencabut rasa ngantuk di pelupuk mata hingga membuat beliau memeras air matanya. Air mata yang mengalir karena menyaksikan bencana yang mencabik-cabik ummat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan serta pasrah pada keputusasaan.

Lalu, bagaimanakah dengan kita? Takkala kita lahir menangis, orang-orang disekeliling kita tertawa bahagia karena menyambut kelahiran kita. Ketika kita tutup usia  orang-orang yang kita tinggalkan menangis, saat itu apakah kita juga turut menangis ataukah tertawa bahagia karena akan berjumpa dengan Allah SWT? Adakah amal kita lebih banyak dari dosa yang kita lakukan selama hidup di dunia yang singkat ini? Adakah prestasi kita hanya lahir, hidup, mati, kemudian dilupakan orang, bahkan oleh orang-orang terdekat kita? Lalu setelah itu pasrah, rebah di bantalan tanah, cemas menanti pengadilan akhir yang pasti tiba.

Sebelum semuanya berbuah penyesalan ada baiknya mata kita ini kita ajari untuk menangis mengharap ridha Allah SWT dengan cara :

Pertama, memperbanyak baca Al Quran dengan memahami maknanya, terutama ayat-ayat yang kita baca di dalam shalat, kemudian berusaha untuk merenungi dan meresapi maknanya ke dalam hati. Pilih waktu, suasana, dan tempat yang tepat, seperti tengah malam, ketika shalat tahajjud dan sebagainya. Jika hal ini mulai dibiasakan, akan ada pengaruh yang berarti dalam kehidupan kita, insyaallåh. Kita pun akan mudah tersentuh dan menangis ketika membaca al-Quran, sedang shalat, atau tengah berdoa. Abdullåh bin Syukhåir (bapak dari Muthårrif) berkata,

“Aku melihat Rasulullah saw. yang sedang shalat, sementara dari rongga dadanya ada suara gemuruh seperti gemuruh air mendidih dari periuk yang ada di atas tungku berapi, (disebabkan) karena tangisan beliau.” ( Sunan Abi Dawud no. 769, Sunan an-Nasai no. 1199, Musnad Ahmad no. 15722)

Kedua, mengenali nama-nama Allåh yang Maha tinggi dan sifat-sifat-Nya yang Agung sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Berusaha merenungi kebesaran, keagungan, ketinggian, dan kesempurnaan Allåh SWT melalui keindahan dan keunikan ciptaan-Nya, disertai dengan introspeksi atas kelemahan diri kita sebagai hambaNya.

Ketiga, menghadiri majelis-majelis ilmu, mendengarkan nasehat-nasehat para ulama yang bisa menyentuh batin, sehingga membuat kita menangis.

Keempat, mengingat kematian. Bagaimana kita akan meregang nyawa mengadapi sakaratul maut. Ingatlah ajal adalah semakin dekat ke ambang pintu kematian. Perhatikan bagaimana keadaan orang-orang yang sedang sakaratul maut, baik yang tampak padanya tanda-tanda husnul khatimah ataupun suul khatimah.

Kelima, mengingat dan membayangkan kedahsyatan hari kiamat. Pada hari itu terdengar tiupan pertama terompet malaikat Israfil yang sangat dahsyat, sehingga menggelegarkan alam jagat raya ini dan seluruh isinya. Semua makhluk dicekam ketakutan. Semua manusia dalam kebingungan, panik, dan sangat takut. Mereka semua seperti orang yang sedang mabuk. Semua lari tapi entah ke mana tujuannya. Pada hari itu seorang ibu yang sedang menyusui anaknya tidak peduli lagi dengan anak yang sedang dia susui.Seorang bapak tidak bisa berbuat apa pun untuk menolong anak dan istrinya. Semua hanya mengurusi diri sendiri, tanpa ada yang bisa diperbuat. Semuanya dicekam ketakutan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Keenam, mengingat murka Allåh SWT kepada umat-umat terdahulu, seperti umat nabi Luth. Mereka dibinasakan dengan hujan batu, lalu bumi mereka dibalikkan oleh Allåh SWT karena mereka bergelimang dengan dosa homoseksual. Banyak umat terdahulu yang dihancurkan Allåh SWT karena kedurhakaan mereka kepada-Nya.

Ketujuh, memperbanyak doa agar Allåh SWT menganugerahkan karunia-Nya kepada kita agar bisa menangis karena-Nya.

Kedelapan, jangan meremehkan dosa. Sekecil apa pun doa akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allåh SWT. Ibnu Mas´ud ra. berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan-akan dia berada di bawah sebuah gunung dan khawatir kalau gunung itu ditimpakan kepadanya. Sedangkan seorang fasik melihat dosa-dosanya bagaikan melihat seekor lalat yang bertengger di hidungnya.

Rasulullah saw. dan para sahabat menjadikan air mata sebagai “bahasa sehari-hari” tatkala berinteraksi dengan Allah SWT. Tiada sehari pun yang mereka lewatkan tanpa menangis. Menangis bukan karena tak punya harta, kehilangan harta, atau sesuatu yang terkait dengan urusan duniawi. Mereka menangis karena cinta yang begitu besar kepada Tuhannya. Cinta yang bersumber dari kuatnya raja’ (harapan akan ridha dan kasih sayang Allah) yang terpadu dengan khauf (rasa takut akan murka Allah).

Karena efeknya yang sangat dahsyat, mereka pun sangat menjaga sikap dan tingkah lakunya, agar jangan sampai mendzalimi orang lain. Mereka sangat takut jika air mata orang-orang yang terdzalimi mendatangkan murka Allah kepadanya. Boleh jadi, inilah yang memotivasi Khalifah Umar bin Khathab untuk memanggul sekarung gandum dari Baitul Mal, ketika ia melihat seorang ibu dan anak-anaknya, yang notabene adalah rakyatnya, kelaparan. Sungguh begitu hebat efek dari air mata yang mengalir karena Allah SWT.

Dilihat dari perspektif ini, tak heran air mata dijadikan barometer untuk mengukur kadar keimanan seseorang. Ada banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW yang mengungkapkan keutamaan menangis. Dalam Al-Qur’an misalnya, Allah menyifatkan orang-orang yang berilmu yang apabila dibacakan ayat-ayat Allah, menyungkurkan muka mereka (bersujud) sambil menangis dan bertambah khusyuk (QS. Al-Israa’ : 109). Dalam ayat yang lain, Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis (QS. Maryam  : 58).

Rasulullah SAW pun bersabda, “Ada dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah. Dan mata yang  berjaga dalam jihad fi sabilillah” (Sunan at Tirmidzi).

Sungguh air mata di dunia ini lebih baik, ketimbang air mata yang mengalir di akhirat kelak. Menangislah!.. Wallahu ‘Alam.

Sumber