Syamsuddin Muir : Menyoal Hari Raya Ghadir

0
170
Ilustrasi (Sumber Foto : google.com)

Hari Raya Ghadir yang dilakukan sebagian komunitas Syiah pada 26 Oktober lalu, menimbulkan pertanyaan bagi mayoritas umat Islam di Tanah Air. Sebab, Islam hanya mengenal Idul Fitri dan Idul Adha. Jadi, apa sebenarnya Hari Raya Ghadir itu?

Akidah Syiah
Sejarahnya, tanggal 18 Zulhijjah 10 H, ketika pulang dari Haji Wada’, Rasulullah mengumpulkan ribuan umat Islam di sebuah tempat, yaitu Ghadir Khum. Lalu, Rasulullah menyampaikan khutbah.

Pada akhir khutbah itu, Rasulullah mengatakan, bahwa orang yang menjadikan dirinya sebagai wali (maula), maka Ali adalah walinya (HR Imam Ahmad).

Ayatullah Ja’far al-Subhani menyebutkan dalam bukunya al-Aqidah al-Islamiyah, bahwa hadits Ghadir itu diriwayatkan oleh 110 orang sahabat nabi, 89 tabi’in, dan 3.500 orang ulama fiqh dan ulama hadits.

Bagi kaum Syiah, hadits Ghadir itu merupakan pernyataan Rasulullah bahwa Ali bin Abu Thalib adalah pemimpin (khalifah) setelah Rasulullah wafat.

Bahkan, rukun iman (ushul al-din) kaum Syiah adalah tauhid, al-‘adl (keadilan), al-nubuwah (kenabian), al-imamah (kepemimpinan), dan yaum al-mi’ad (hari akhirat).

Bahkan, ulama hadits kaum Syiah, Ayatullah Abu Ja’far al-Shaduq mengatakan dalam bukunya Amali al-Shaduq, bahwa  Rasulullah mengatakan, Ali adalah wali (pemimpin) setiap mukmin sesudahku.

Dan orang yang mengingkari kepemimpinan Ali, maka orang itu telah mengingkari kenabiaanku.

Kemudian, Ayatullah Muhammad Ridha al-Muzaffar mengatakan dalam bukunya ‘Aqa’id al-Imamiyah, bahwa tidak sempurna iman tanpa beriman kepada imam (pemimpin). Dan imam itu sama dengan nabi, dan pengangkatannya melalui nas dari Allah, bukan melalui pemilihan rakyat.

Dan imam itu ada 12 orang, yaitu Ali bin Abu Thalib, al-Hasan bin Ali, al-Husein bin Ali, Ali bin al-Husein, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far, Ali bin Musa, Muhammad bin Ali, Ali bin Muhammad, al-Hasan bin Ali, Muhammad bin al-Hasan.

Terus, dalam bukunya Ayat al-Ghadir, Ayatullah Ali al-Milani menguatkan dasar akidah Syiah itu dengan mengatakan, ayat 67, surah al-Ma’idah, berupa perintah kepada Rasulullah menyampaikan apa yang diturunkan Allah itu, merupakan ayat yang turun di Ghadir  mengenai Ali bin Abu Thalib.

Kesimpulannya, mengingkari akidah Syiah itu dianggap kafir, atau muslim yang tidak mukmin. Begitu yang dinyatakan Ayatullah Sayyid Abdul Husein Dastaghib dalam bukunya ‘Aqa’id Wa Mafahim. Begitu juga pernyataan Ayatullah Muhammad Ashif al-Muhsini dalam bukunya Shirath al-Haq.

Makanya, pengikut Syiah, Fathimah Ali Ja’far dalam bukunya al-Ghadir ‘Id Ashhab al-Yamin mengatakan, hari raya Ghadir itu lebih mulia daripada semua hari raya yang lain.

Akidah Ahlusssunnah
Islam Sunni (Ahlussunnah) merupakan mayoritas muslim di dunia ini tidak memasukkan imamah (kepemimpinan) dalam rukun iman (akidah). Tapi imamah masuk dalam kajian fiqh (syariat).

Lalu, ayat 67, Surah al-Ma’idah itu tidak berkaitan dengan Ali bin Abu Thalib. Karena, ada delapan riwayat sebab penurunan ayat itu yang ditulis Imam Jalaluddin al-Syuthi dalam bukunya Lubab al-Nuqul Fi Asbab al-Nuzul. Semua riwayat itu hanya menceritakan tentang tantangan Rasulullah dalam menyampaikan risalah Islam.

Memang, dalam buku Asbab Nuzul al-Quran yang ditulis Imam Abu al-Hasan Ali al-Wahidi menyebutkan empat riwayat sebab turunnya ayat itu. Di antara riwayat itu menyatakan, ayat itu turun pada hari Ghadir, mengenai Ali bin Abu Thalib.

Namun, riwayat itu tidak bisa diterima. Sebab, perawi yang bernama Ali bin ‘Abis itu perawi lemah (dha’if). Dan perawi yang bernama Athiah bin Sa’ad al-‘Aufi itu penganut Syiah yang dikenal sebagai mudallis (menyembunyikan cacat pada sanad hadits). Begitu keterangan Kamal Basyuni Zaghlul yang mentahkik buku Imam al-Wahidi itu.

Para ulama hadits yang menilai kedudukan perawi hadits (al-jarh wa al-ta’dil) juga menolak semua hadits yang diriwayatkan orang Syiah.

Bahkan, Imam Malik mengingatkan, agar tidak meriwayatkan hadits dari orang Syiah, sebab orang Syiah itu dikenal pendusta.

Imam Syafi’i pula mengakui bahwa orang Syiah itu kelompok pembohong. Imam Syarik Abdullah al-Qadhi menyatakan, kaum Syiah itu suka membuat hadits palsu.

Pernyataan para ulama terkemuka itu bisa dilihat dalam kitab Imam Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah.

Kemudian, hadits Ghadir itu hadits yang masuk dalam daftar hadits Fadhail Ashhab al-Nabi (keutamaan sahabat Nabi), bukan pernyataan Rasulullah mengangkat Ali sebagai khalifah setelah wafatnya.

Lihat, jilid 9 kitab Bughyah al-Ra’id Fi Tahqiq Majma’ al-Zawa’id, Imam al-Haitsami menulis Bab al-Manakib (keutamaan sahabat Nabi). Satu jilid kitab itu memuat hadits keutamaan pribadi para sahabat Nabi, termasuk Ali. Dan di situ juga ada hadits Ghadir.

Hadits Sahih Imam al-Bukhari dalam kitab Fath al-Bari di jilid 7 itu berisi berbagai hadits keutamaan para sahabat Nabi. Hadits Sahih Imam Muslim dalam kitab al-Kaukab al-Wahhaj di jilid 23 berisi banyak hadits keutamaan diri para sahabat nabi.

Cuma, hadits Ghadir itu hanya ada dalam kitab hadits Imam Ahmad dan Imam al-Baihaqi.

Kemudian lagi, dalam bukunya Ma’a al-Itsna ‘Atsariyah Fi al-Ushul Wa al-Furu’, Syaikh Ali Ahmad al-Salus mengatakan, kata wali dalam hadits Ghadir itu bermakna menyayangi dan menolong, bukan bermakna memimpin.

Jika kata wali pada hadits Ghadir itu bermakna pemimpin, niscaya Saidina Ali memprotes pengangkatan Abu Bakar, Umar, dan Utsman.

Tapi, tidak ada satu pun riwayat hadits menceritakan hal itu.  Makanya, akidah Syiah itu telah membelah akidah umat Islam dengan sikap mereka yang mengkafirkan umat Islam yang tidak mengikuti keyakinannya, nauzubillah.

Syamsuddin Muir : Anggota Komisi Fatwa MUI Riau

Sumber