Turki : Antara Bayang-Bayagn Ustmani Dan Kudeta | Ust. Sofiandi, BA., MH.I

Iklan Semua Halaman

Turki : Antara Bayang-Bayagn Ustmani Dan Kudeta | Ust. Sofiandi, BA., MH.I

Rabu, 08 Mei 2019
Foto : Masjid Terbesar Di Turki Sumber : Google Imges
INDRAGIRI.com, KHAZANAH – Ketika mendengar berita bahwa telah terjadi usaha kudeta yang dilakukan oleh pihak militer terhadap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan – meskipun kemudian terbukti gagal, tiba-tiba saya teringat dengan diskusi kecil yang pernah dulu terjadi antara saya dengan salah seorang teman asal Turki bernama Mustafa, saat kami sama-sama kuliah di University of the Punjab, Lahore, Pakistan.

Masih berbekas dalam benak saya bagaimana di suatu sore musim semi, sambil duduk-duduk menikmati segarnya Manggo Juice di lapangan rumput Sir Syed International Hostel, asrama dimana kami dulu tinggal, khusus disediakan untuk para mahasiswa yang berasal dari luar Pakistan. Apa yang dikatakannya adalah suatu yang sangat menarik, ia katakan bahwa sesungguhnya masyarakat Turki sangat merindukan kepemimpinan yang islami, sebagaimana dahulu saat di bawah kepemimpinan Khilafah Islamiyah Ustmaniyah atau dalam kitab-kitab sejarah Barat dikenal dengan sebutan The Ottoman Empire.

Harus diakui, Turki pada masa Ottoman sangat jauh berbeda keadaannya dibandingkan dengan Turki pada masa “modern”. OttomanTurki merupakan kelanjutan sejarah panjang suatu sistem pemerintahan Islam yang berawal jauh ke belakang semenjak Nabi Muhammad SAW pertama kali memimpin Daulah Islamiyyah (Tatanan/Negara Islam) Pertama di kota Madinah.

Namun pada tanggal 3 Maret 1924, Penguasa Mustafa Pasha Kemal Attaturk bersama Majelis Nasional Agung yang berada di Turki menyetujui tiga buah Undang-Undang baru yaitu (1) menghapuskan kekhalifahan, (2) menurunkan khalifah dan (3) mengasingkannya bersama-sama dengan keluarganya. Mulai saat itu, atmosfir baru yang “modern” pun dimulai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Turki, pembaharuan dengan nasionalisme, sekularisme dan westernisasi.

Sekularisasi dan westernisasi yang terjadi tidaklah mampu membuat Turki kemudian muncul sebagai kekuatan yang lebih dahsyat dari apa yang pernah tercatat indah dalam sejarah peradaban dunia.

Siapa yang tidak kenal dengan Konstantin yang karena kekuasaannya yang luar biasa di Turki bahkan mencapai belahan dunia lain, menjadikan namanya sebagai nama negara yaitu Konstantinopel dan tercatat dengan tinta emas sebagai bangsa besar yang pernah ada di dunia ini. Kemudian Ottoman pada abad ke-15 dengan kekuasaannya yang membentang dari Asia hingga Eropa selama lebih dari 7 abad lamanya, menguasai politik dan percaturan ekonomi dunia.

Hal ini yang menimbulkan kegelisahan arus bawah, yang lambat laun menyebar hampir di setiap benak masyarakat Turki umumnya. Kenyataan bahwa ekonomi Turki selalu berada pada rangking dibawah 100 dunia (kalah jauh dari ekonomi Indonesia), pendapatan perkapita yang tidak pernah menembus angka 2000 dollar pertahun, dan bahkan puncaknya pada rentang tahun 1994-1999 terjadi resesi ekonomi dan krisis finansial yang dahsyat dimana harga secangkir teh di Turki pernah menembus angka 5 juta Lira (1 dollar Amerika saat itu setara dengan 1.650.000 Lira).

Maka Muncullah Recep Tayyip Erdogan, berawal dari panggung walikota di wilayah Istanbul lalu kemudian menduduki kursi Perdana Menteri dan sejak tahun 2014  terpilih menjadi Presiden Turki yang ke-12. Ia mendirikan partai politik  Adalat Ve Kalkimna Partisi (Partai Keadilan dan Pembangunan) dengan filosofi dan ideologi Islam yang sangat terbuka dengan politik Turki Modern. Yang perlu difahami secara jelas disini adalah sesungguhnya bukanlah

Erdogan orang yang pertama kali berusaha melakukan perpaduan kembali antara Islam dan politik Turki Modern, tapi Necmettin Erbakan lah orangnya. Ia menduduki kursi Perdana Menteri Turki selama 1 tahun, dari 1996 hingga 1997. Ia seorang politisi, insinyur dan akademisi yang digulingkan (baca: dikudeta) secara konstitusional oleh Militer Turki karena dianggap melakukan pelanggaran konstitusi dengan usahanya menyatukan kembali agama dengan negara, sedangkan konstitusi Turki yang dianut sejak masa Attaturk adalah kebalikannya; pemisahan antara agama dan negara. Ia kemudian hingga akhir hayatnya (2011) dilarang terlibat dalam segala bentuk aktifitas politik oleh Mahkamah Konstitusi Turki.

Erbakan lah Perdana Menteri pertama dalam sejarah politik modern Turki yang berani menghembuskan angin perubahan Islam melalui gerakan ideologi politiknya Millῐ Gὃrὓs. Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa semangat membara yang ada pada Erbakan telah menjadikannya seorang yang kaku dan konservatis sehingga cenderung terlalu keras dan frontal dalam melakukan “proyek” Islamisasi Turki Modern.

Hal ini lah yang kemudian menjadi catatan penting bagi Erdogan ketika ia berhasil menduduki kursi Perdana Menteri pada tahun 2003 hingga sekarang saat menjabat sebagai Presiden Turki. Erdogan tampil sebagai antitesis Erbakan. Erdogan meninggalkan politik puritan nya Erbakan dan merangkul seluruh elemen kekuatan negara dalam wadah parta AKP. Erdogan dan kabinetnya tidak bergerak pada pola pergerakan simbolisme agama.

Ia menekankan dan fokus pada kerja nyata yang menyentuh hajat hidup masyarakat Turki. Sehingga Hanya dalam 1 dekade saja, Turki mampu menggeliat, bangun dan berdiri lebih tinggi dari bangsa maju lain. Bayangkan saja, Produk Domestik Nasional Turki di tahun 2013 mencapai 100M dolar Amerika, menyamai pendapatan gabungan 3 negara dengan ekonomi terkuat di Timur Tengah; Arab Saudi, Uni Emirat arab, Iran, dan ditambah dengan Yordan, Suriah dan Libanon.

Bahkan Turki mampu melakukan lompatan ekonomi yang besar, dari rangking 111 dunia ke peringkat 16, dengan rata-rata peningkatan 10 % pertahun, yang berarti masuknya Turki ke dalam 20 negara besar terkuat (G-20) di dunia. Dan yang terdahsyat adalah, Erdogan mencanangkan tahun 2024 sebagai tahun pembangunan Negara Turki Modern, dengan target utama menjadikan Turki pada tahun itu sebagai negara dengan kekuatan politik dan ekonomi nomer 1 di dunia. Erdogan tidak hanya membiayai 300 ribu ilmuwan guna melakukan penelitian ilmiah, ia juga membangun 35 ribu laboratorium IT dan data base modern untuk menuju ke tahun 2024. Tahun 2024 bertepatan dengan seratus tahun (1 abad) Turki modern.

Ini semua terjadi karena keberhasilan Erdogan membawa partai politiknya keluar dari stigma garis keras politik Islam. Partai AKP sangat lah jauh dari kesan brutalisme taliban, wahabisme atau kejumudan Islam konservatif. AKP berhasil menjadi partai politik yang merangkul kebudayaan lokal ke dalam kehidupan politik.

Erdogan dengan sikapnya yang mudah menyatu dengan segala golongan, menjadikannya mudah diterima oleh seluruh rakyatnya. Ia pernah duduk berhadapan dengan seorang anak perempuan yang usianya masih 12 tahun, tampil dalam siaran langsung televisi, berdebat dan berdiskusi tentang pembangunan Turki masa depan. Beliau hormati kecerdasan dan semangat anak tersebut.

Sekaligus beliau didik anak-anak Turki keteladanan dalam berdebat dan berdiskusi serta membaca masa depan. Kesan ideologi politik yang terbuka pada diri Erdogan sangat jelas tampak saat ia mengirim 2 orang putrinya yang berjilbab untuk menuntut ilmu di Indiana Univeristy, Amerika karena pada saat itu masih ada larangan pemakaian jilbab di seluruh institusi pendidikan yang ada di Turki.

Setelah semua ini, sangatlah menarik menelaah Erdogan dan kudeta gagal yang menghantamnya beberapa hari lalu. Kudeta yang sangat tidak mungkin lahir dari dalam, jika kita lihat segala pencapaian yang telah berhasil dilakukan oleh Erdogan dan para pembantunya untuk Turki. Siapapun yang melihat kudeta ini pasti akan segera menyimpulkan bahwa ini terjadi karena adanya ketidaknyamanan pihak luar terhadap kebangkitan Turki dalam satu dekade ini.

Sebuah kebangkitan yang dahsyat, lompatan yang quantum dan pembangunan yang sungguh mencengangkan. Dalam 10 tahun terakhir, pendapatan perkapita penduduk Turki yang dahulunya hanya 3500 dolar pertahun, meningkat pada tahun 2013 menjadi 11.000 dollar pertahun, lebih tinggi dari perkapita penduduk Prancis. Dan Erdogan naikkan nilai tukar mata uang Turki 30 kali lipat.

Konspirasi berkelebat ke sini dan ke sana. Tatkala kudeta baru saja memasuki masa 2 jam pertama, sejumlah media barat sudah berani melaporkan “keberhasilan” kudeta yang telah dilakukan oleh militer itu. The Telegraph menyebut para tentara yang melakukan kudeta sebagai “the guardian of Turkey’s Secular Constitution”. Times of Malta menyatakan “Coup likely to succeed: it’s not just e few colonels…” bahkan The Daily Beast mensinyalir bahwa Erdogan telah meminta suaka politik di Jerman namun ditolak dan kemudian berusaha untuk kabur ke Inggris. Kenapa demikian banyak konspirasi dalam hal ini? Tidak heran jika TIME menjuluki Erdogan sebagai “Turkey’s mystery man”.

Terlepas dari segala konspirasi tersebut, Erdogan tampil sebagai satu-satunya pemimpin negara bermayoritas muslim yang mampu mengalahkan kudeta bersenjata dengan menggandeng tangan mayoritas rakyatnya. Ia mampu memenangkan hati rakyat dengan pendekatan ideologis islamis elegan. Padahal dalam catatan sejarah, negara-negara berpenduduk mayoritas muslim memiliki pengalaman yang buruk perihal kudeta. Di negara tempat saya dan Mustafa kawan Turki saya kuliah, Pakistan, kudeta militer terjadi tidak hanya sekali.

Tercatat 3 kali kudeta militer terjadi di Pakista, Ayub Khan, Zia-ul-Haq dan terakhir Perweez Musharraf adalah pelakonnya. Di Sudan, Jenderal Umar al-Bashir memimpin kudeta dan berhasil mengambil alih kekuasaan dari Presiden Sadiq al-Mahdi. Di Libya, Muamar Qadhafi menggulingkan kekuasaan dari Raja Muhammad Idris bin Muhammad al-Mahdi as-Sanusi dan dahsyatnya adalah bahwa pada saat itu Qadhafi hanya berpangkat kolonel dan masih sangat muda. Ada rumor yang mengatakan bahwa karena ia hanya berpangkat kolonel, maka seluruh pangkat militer di atasnya dihapus sehingga dalam kurun waktu beberapa lama Libya tidak memiliki seorang jenderal pun.

Yang menarik dari sini adalah bahwa semua pergerakan kudeta yang dilakukan tersebut dilakukan dengan dalih untuk menyelamatkan negara. Dalam konteks ini, agak sedikit bias jika label “menyelamatkan negara” disematkan kepada para pelaku kudeta gagal di Turki mengingat segala pencapaian yang telah diraih Turki dalam satu dasawarsa ini.

Dalam hal pendidikan saja, tatkala krisis ekonomi melanda dan memaksa Eropa serta Amerika menaikkan uang sekolah dan kuliah, Erdogan malah membebaskan seluruh biaya kuliah dan sekolah bagi rakyatnya, bahkan gaji guru dinaikkan sebesar gaji seorang dokter. Selama satu dekade ini, telah didirikan 125 universitas baru, 189 sekolah baru, dan 169 ribu kelas baru yang modern sehingga rasio siswa perkelas di Turki saat ini tidak lebih dari 21 orang.

Negeri yang aneh bin ajaib. Tapi begitulah kenyataan yang tampak sekarang. Namun yang jelas dari ini semua adalah kebenaran dari cerita yang dilontarkan oleh Mustafa, kawan kuliah saya itu. Kerinduan terhadap kepemimpinan yang ustmani serta kebenaran hakiki yang dipercayai oleh Erdogan, membuat rakyat dan dirinya tidak terpisahkan. Bagaimanapun kebenaran tetaplah pemenang seberapa masiv pun keburukan menghadang. Bagaimana kabar mu Mus…?

Wallahu ‘Alam