Khilaf dan Ikhtilaf | Ust. Sofiandi, BA, MH.I

Iklan Semua Halaman

Khilaf dan Ikhtilaf | Ust. Sofiandi, BA, MH.I

Sabtu, 28 Desember 2019
Foto : Ilustrasi Banjir by Google Images
INDRAGIRI.com, KHAZANAH – Khilaf dan ikhtilaf merupakan dua kata yang berbeda yang tidak dapat sama sekali diidentikkan atau dikaitkan antar satu dengan lainnya. Berangkat dari hal ini, maka diperlukan sebuah pemahaman yang jernih dan haq terhadap perbedaan yang dimaksud pada keduanya. Secara terminologi, kedua hal ini memang memiliki makna yang sama, bahkan sebagian ulama menguatkan hal ini. Namun sebagian ulama lainnya memberikan perbedaan yang menurut saya, perbedaan antara khilaf dan ikhtilaf ini sungguh mendasar. Imam Alauddin di dalam bukunya Addurulmukhtar mengatakan secara eksplisit:

الإختلاف لا الخلاف والفرق أن للاول دليلا لا الثانى

Ikhtilaf itu berbeda dengan khilaf. Ikhtilaf adalah perbedaan dengan dalil, adapun khilaf merupakan perbedaan tidak dengan dalil

Oleh karenanya sering kita dengar perkataan “ikhtilaf ulama dalam hal ini sangat beragam” artinya bahwa perbedaan pendapat ulama dalam hal tersebut sangatlah beragam karena dalil dalil yang berbeda dan juga karena pemahaman dalil yang berbeda pula.

Sesungguhnya ikhtilaf atau perbedaan ulama yang sering kita dengar saat ini merupakan suatu fenomena yang sama sekali tidak baru. Bahkan bisa dikatakan bahwa ikhtilaf ulama yang kita dapati saat ini merupakan hal yang biasa dalam Islam yang sejatinya merupakan bukti kekayaan khazanah dalam agama ini. Jika dianggap bahwa ikhtilaf dalam agama Islam ini merupakan suatu ketidak sempurnaan, maka pendapat ini sama sekali tidak benar.

Islam memberikan ruang yang sangat luas bagi akal manusia untuk mencerna berbagai hal yang ada dalam kehidupannya. Tidak terbatas dalam hal keduniaan, namun juga pada hal yang sifatnya reliji. Demikianlah sesungguhnya tujuan dan maksud Allah SWT dalam penciptaan manusia yang sempurna. Dikatakan sempurna karena makhluk yang bernama manusia ini diberikan akal pikiran,bukan otak semata.

Banyak ayat al-Quran yang menunjukkan fakta bahwa manusia diperintahkan untuk menggunakan akal pikirannya dalam rangka mencapai suatu titik kulminasi berupa penghambaan diri kepada Allah SWT. Bahkan wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW merupakan wahyu yang konten keseluruhannya bernafaskan keilmuan (baca: Knowledge).

Berdasarkan hal ini,maka perbedaan atau ikhtilaf dalam agama Islam merupakan sebuah fenomena yang syar’i yang menunjukkan bahwa betapa agama Islam merupakan agama yang logis dan bisa diterima oleh akal. Disamping itu, fenomena ini juga merupakan bukti betapa luasnya khazanah keilmuan yang ada dalam agama Islam.


Ikhtilaf telah muncul sejak masa Nabi Muhammad SAW masih hidup, setelah beliau wafat, juga pada masa para sahabat, pada masa tabi’in, pada masa tabi’ittabi’in, pada masa generasi tiga abad pertama hijriyah hingga saat ini. Demikian panjangnya sejarah munculnya ikhtilaf tersebut sehingga kita pun harus bisa menyikapi hal ini dengan arif dan bijaksana.

Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa ikhtilaf yang terjadi sejak dahulu itu tidak ada satupun yang masuk ke ranah ushul atau yang kita sebut dengan ranah prinsip dasar agama. Perbedaan pendapat ulama terjadi hanya dalam masalah cabang atau yang kita sebut dengan masalah furu’iyyah. Karena masalah furu’iyyah ini merupakah masalah yang bukan asas, maka yang dibutuhkan adalah kelapangan dada dari segenap masyarakat muslim dalam menerima perbedaan tersebut.

Dengan kata lain, jangan jadikan perbedaan ini sebagai usaha pengkafiran atau membid’ahkan amalan muslim lainnya. Bukankah Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan bahwa jika terjadi kesalahan dalam usaha ijtihad, maka ia mendapatkan hanya satu pahala, namun jika benar maka 2 pahala yang diraihnya. Salah atau benar dalam hal furu’ tidak menjadikan seorang muslim otomatis berubah menjadi kafir.

Ada baiknya kita berpegang pada pendapat yang dikatakan oleh Hasan Al-Banna:

نعمل فيما اتفقنا ونعتذر فيما اختلفنا

Pada suatu yang kita sepakat, mari kita laksanakan bersama. Dan pada suatu yang kita tidak sepakati, mari kita berlapang dada.

Wallahu a’lam bishawab