Minuman Yang Memabukkan | Ust. Sofiandi, BA, MH.I

Iklan Semua Halaman

Minuman Yang Memabukkan | Ust. Sofiandi, BA, MH.I

Sabtu, 28 Desember 2019
Foto : Ilustrasi Minuman Beralkohol by Google Imges
INDRAGIRI.com, KHAZANAH – Minuman yang memabukkan dibagi menjadi 2 jenis, yaitu KHAMAR dan NABIDZ. Khamar adalah minuman keras yang terbuat dari anggur sedangkan yang dinamakan Nabidz adalah air rendaman (infused water) kurma / kismis (raisins) dan lainnya, selain anggur.

Mengenai hukum keduanya, maka terdapat khamar ulama sepakat bahwa meminum minuman keras yang terbuat dari anggur adalah haram, baik sedikit apalagi banyak, baik sampai kadar memabukkan ataupun meminumnya tidak sampai memabukkan. Hal ini berdasarkan antara lain firman Allah SWT pada surat al-Maidah ayat 90-91. Adapun mengenai Nabidz, maka terdapat perbedaan ulama didalamnya.

Ulama fiqih dari Hijaz menyipatinya seperti Khamar, yang oleh karenanya, haram hukumnya untuk diminum baik sedikit apalagi banyak, baik sampai kadar yang memabukkan ataupun tidak. Akan tetapi, menurut ulama Irak, Basrah dan Kufah, maka mereka menghukumi Nabidz sebagai minuman yang tidak haram. Bagi mereka, akan berubah hukumnya menjadi haram jika meminumnya hingga mabuk.

Dimana posisi hadist yang menyatakan bahwa sesuatu yang banyaknya memabukkan maka yang sedikitnya adalah haram?

Hadist inilah yang menyebabkan semua minuman yang punya potensi memabukkan hukumnya diharamkan oleh jumhur ulama. Namun hadist ini diperselisihkan hujahnya. Ulama Hijaz mengakui kehujahan hadist ini sedangkan ulama Kufah mengangap hadist ini berlawanan dengan al-Quran surat an-Nahl ayat 67:

وَمِن ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا ۗ

Artinya : “Dan dari buah Kurman dan Anggur yang kalian dapat membuat minuman yang memabukkan daripadanya dan rezeki yang baik….”

Pada kata سَكَرً  pada ayat diatas, ulama Kufah menafsirkannya sebagai Nabidz. Maka mereka menggunakan hadist yang lain, yaitu,”Diharamkan khamar karena zatnya dan diharamkan muskir (nabidz) bukan karena zatnya”.


Ulama Hijaz tidak menganggap kuat hadist ini. Maka merekapun menggunakan hadist lain,”Tiap-tiap muskir (yang memabukkan) adalah khamar, dan tiap-tiap khamar adalah haram”. Ulama Kufah memiliki pandangan yang lain tentang hadist yang ini. Muskir dalam hadist ini menurut ulama Kufah ditafsirkan sebagai ‘kadar yang memabukkan’ atas dasar keterangan dari Ibn Abbad yang berkata,”Rasulullah bersabda bahwa tiap muskir adalah haram maka kami berkata: Wahai Ibn Abbas, nabidz (muskir) yang kami minum ini memabukkan kami, Ibn Abbas menjawab: Bukan demikian, namun jika seseorang dari kalian meminum sembilan cangkir lalu tidak mabuk, maka halal. Tapi jika kemudian ia minum cangkir yang ke sepuluh lalu mabuk, itulah yang haram”.

Demikian maka khamar adalah suatu yang tidak terbantahkan lagi tentang keharamannya, bukan hanya haram bahkan juga najis. Adapun nabidz, dalam kitab al-Majmu’, Imam Nawawi menjelaskan sebuah riwayat bahwa Abu Hanifah membolehkan berwudlu saat safar dengan menggunakan air Nabidz. Hal ini dikarenakan zat nabidz itu sendiri adalah suci, tidak najis seperti khamar dan halal diminum.

Namun bukan berarti kita bebas sembarangan meminum bir dengan dalih ‘bukan terbuat dari anggur’. Karena Imam Syafi’i sendiri, yang merupakan mazhab yang mayoritas kita panuti disini, merupakan golongan ulama Hijaz yang mengharamkan semua yang memabukkan walau minumya sedikit. Atau bahkan jangan-jangan orang  Islam yang minum-minum bir walau tidak sampai mabuk itu sendiri tidak mengerti permasalahan hukum yang diperdebatkan oleh golongan Hijaz dan Kufah ini.

Wallahu a’lam bisshowab