Breaking News

PRODI PAI UNISBA PERKUAT INTEGRITAS AKADEMIK MAHASISWA DI ERA AI

 


INDRAGIRI.com, Bandung – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah secara drastis cara mahasiswa belajar, meneliti, dan menghasilkan karya ilmiah. Di tengah kemudahan yang ditawarkan teknologi, perguruan tinggi dituntut memastikan budaya akademik tetap berjalan dengan prinsip 

kejujuran, etika, dan tanggung jawab ilmiah. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Universitas Islam Bandung (Unisba) menyelenggarakan kegiatan pelatihan bertajuk “Penguatan Integritas Akademik Mahasiswa di Era Kecerdasan Buatan: Program Pemberdayaan Berbasis Literasi Digital dan Etika.”

Acara yang dilaksanakan pada Kamis, 21 November 2025 ini digelar di Gedung Dekanat Lantai 8 Unisba, dan dihadiri puluhan mahasiswa sebagai peserta utama. Pelatihan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Skema PKM Berbasis Prodi, yang berhasil mendapatkan dukungan Hibah Diktis Kementerian Agama (Kemenag) RI Tahun 2025. Melalui hibah ini, Unisba menjadi salah satu kampus yang dipercaya untuk menginisiasi model penguatan literasi digital dan integritas akademik berbasis prodi, khususnya pada Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI).

Kontribusi Program PKM Berbasis Prodi

Program PKM Skema Berbasis Prodi Kemenag 2025 menekankan pentingnya kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat akademik untuk menjawab tantangan zaman. Skema ini mendorong setiap prodi untuk melahirkan program yang inovatif, kontekstual, dan mampu memberikan dampak langsung terhadap kualitas akademik mahasiswa.

Ketua pelaksana kegiatan menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang sebagai respon terhadap fenomena penyalahgunaan AI dalam penulisan karya ilmiah, mulai dari plagiarisme digital hingga penggunaan AI-generated content tanpa memahami aspek etika dan akuntabilitas. Oleh karena itu, pelatihan ini tidak hanya memberi pemahaman teknis penggunaan AI, tetapi juga menanamkan karakter dan kesadaran etis dalam memanfaatkan teknologi.

Pelatihan menghadirkan tiga narasumber yang kompeten di bidangnya, yakni Giantomi Muhammad, Alhamuddin, dan Arif Hakim. Ketiganya merupakan akademisi Unisba yang selama ini aktif dalam kajian literasi digital, kurikulum PAI, dan pengembangan etika akademik. Materi pertama disampaikan oleh Giantomi Muhammad, yang mengangkat tema “Pemanfaatan AI Secara Etis untuk Penulisan Akademik.” 

Dalam penjelasannya, Giantomi menekankan bahwa AI harus diposisikan sebagai asisten berpikir, bukan pengganti nalar. Ia memaparkan berbagai contoh penggunaan AI yang bertanggung jawab, termasuk teknik parafrase yang benar, pentingnya sitasi, serta peran perangkat pendukung seperti Google Scholar, Zotero, dan Mendeley.

“Mahasiswa harus memahami bahwa teknologi hanyalah alat. Kualitas berpikir tetap datang dari manusia. AI tidak boleh menjadi jalan pintas untuk menghindari proses intelektual,” ujarnya.

Materi kedua dibawakan oleh Alhamuddin, dengan topik “Pengantar Integritas Akademik di Era AI.” Dalam paparannya, ia menguraikan tantangan baru dalam dunia akademik, termasuk maraknya AI-generated content, autoplagiarism, hingga persoalan keaslian karya ilmiah. Ia menekankan bahwa integritas akademik adalah bagian dari adab ilmiah yang harus dijunjung tinggi oleh setiap mahasiswa, terutama mereka yang kelak menjadi pendidik.

“Kejujuran akademik adalah fondasi bagi mahasiswa PAI. Jika sejak kuliah saja sudah terbiasa mengambil jalan pintas, bagaimana kelak mereka akan menjadi teladan bagi siswa-siswinya?” terangnya.

Materi terakhir disampaikan oleh Arif Hakim, yang membahas literasi digital secara lebih luas. Materinya mencakup validasi informasi, keamanan data pribadi, jejak digital, serta etika bermedia di ruang akademik. Ia menegaskan bahwa generasi mahasiswa hari ini hidup di tengah arus informasi yang deras, sehingga kemampuan menyeleksi dan mengolah informasi menjadi keterampilan esensial.

“Literasi digital bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi pemahaman tentang konsekuensi perilaku digital. Apa yang kita unggah, bagikan, dan konsumsi dapat membentuk identitas akademik kita,” ungkapnya.

Menjawab Tantangan Etika di Era Teknologi

Pelatihan ini mendapatkan respons positif dari para peserta. Banyak mahasiswa mengaku mendapatkan wawasan baru tentang cara memanfaatkan AI secara bijak, sekaligus menyadari pentingnya menjaga integritas akademik di tengah kemudahan teknologi.

Acara ini juga menegaskan bahwa perguruan tinggi kini tidak hanya berkewajiban mengajarkan konten akademik, tetapi juga memastikan bahwa setiap mahasiswa memiliki kepribadian kuat untuk bersikap etis dan bertanggung jawab. Kehadiran AI yang semakin canggih menuntut mahasiswa untuk lebih kritis, kreatif, dan berkarakter.

Melalui dukungan Hibah Diktis Kemenag 2025, program ini diproyeksikan menjadi model nasional yang dapat direplikasi oleh prodi PAI di perguruan tinggi lain. Unisba berharap kegiatan ini menjadi titik awal lahirnya budaya akademik yang lebih sehat, unggul, dan bermartabat. 

Pada sesi penutupan, para narasumber mengajak mahasiswa untuk menjadikan nilai integritas sebagai identitas diri. Mereka menegaskan bahwa teknologi boleh berkembang pesat, tetapi karakter dan etika tetap menjadi bagian yang menentukan kualitas seseorang.

Pelatihan ini pun direncanakan berlanjut melalui pendampingan, modul, dan workshop lanjutan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan PKM berbasis prodi. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memahami konsep integritas akademik, tetapi juga memiliki keterampilan praktis dalam menerapkannya.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa Unisba terus berkomitmen mencetak lulusan yang unggul, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan zaman, sekaligus menunjukkan bahwa perguruan tinggi Islam juga dapat menjadi pelopor dalam pemanfaatan teknologi secara etis dan bertanggung jawab. (*)


0 Komentar

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close