Breaking News

Kurikulum 5.0: Ketika Pendidikan Kembali Menjadi Ikhtiar Peradaban | Sudirman Anwar

 


INDRAGIRI.com, OPINI - Perbincangan tentang kurikulum sering kali terjebak pada urusan teknis: struktur mata kuliah, jumlah SKS, format RPS, atau penyesuaian regulasi terbaru. Padahal, kurikulum sejatinya jauh melampaui urusan administratif. Ia adalah pernyataan nilai—tentang manusia seperti apa yang ingin dibentuk oleh sebuah peradaban.

Di tengah percepatan teknologi, disrupsi kecerdasan buatan, dan perubahan sosial yang kian kompleks, pendidikan berada di persimpangan zaman. Kurikulum 5.0 hadir bukan sebagai sekadar versi lanjutan dari kurikulum sebelumnya, melainkan sebagai upaya mengembalikan pendidikan pada tujuan paling dasarnya: memanusiakan manusia, tanpa menutup mata terhadap kemajuan zaman.

Dari Kurikulum sebagai Dokumen ke Kurikulum sebagai Pengalaman

Selama bertahun-tahun, kurikulum kerap diperlakukan sebagai dokumen mati. Ia disusun rapi, disahkan secara formal, tetapi tidak selalu hidup di ruang kelas. Banyak dosen dan institusi menjalankan kurikulum sebatas memenuhi kewajiban administratif, sementara praktik pembelajaran berjalan dengan pola lama yang nyaris tidak berubah.

Kurikulum 5.0 menawarkan pergeseran paradigma. Kurikulum tidak lagi dipahami sebagai daftar konten, tetapi sebagai rancangan pengalaman belajar. Fokusnya bergeser dari apa yang diajarkan ke bagaimana mahasiswa belajar, berpikir, dan bertumbuh. Di sinilah pembelajaran berbasis proyek, pemecahan masalah, dan refleksi menjadi relevan.

Teknologi Penting, Tetapi Bukan Segalanya

Tidak dapat dipungkiri, teknologi dan kecerdasan buatan membuka peluang besar dalam pendidikan. Akses informasi semakin luas, pembelajaran semakin personal, dan proses evaluasi semakin efisien. Namun, Kurikulum 5.0 mengingatkan satu hal penting: teknologi adalah alat, bukan tujuan.

Ketika teknologi digunakan tanpa kebijaksanaan, pendidikan berisiko kehilangan ruhnya. Mahasiswa mungkin menjadi cepat, tetapi dangkal; efisien, tetapi kehilangan daya refleksi. Karena itu, Kurikulum 5.0 menempatkan etika, nilai, dan kemanusiaan sebagai fondasi. Kecerdasan buatan boleh membantu, tetapi nalar dan nurani manusia tetap memegang kendali.

Tantangan Nyata di Lapangan

Implementasi Kurikulum 5.0 tidak berjalan tanpa hambatan. Di Indonesia, tantangan muncul dari kebijakan yang sering berubah, budaya institusi yang belum sepenuhnya siap, serta kesenjangan sumber daya antar perguruan tinggi. Inovasi berisiko menjadi eksklusif ketika tidak semua pihak memiliki akses yang setara terhadap teknologi dan dukungan pembelajaran.

Di sinilah pentingnya sikap reflektif. Kurikulum 5.0 tidak menuntut perubahan serba cepat dan seragam, tetapi adaptasi yang sadar dan kontekstual. Keberhasilan kurikulum tidak diukur dari seberapa modern istilah yang digunakan, melainkan dari sejauh mana pembelajaran benar-benar bermakna bagi mahasiswa.

Kurikulum sebagai Ikhtiar Peradaban

Pada akhirnya, Kurikulum 5.0 mengajak kita melihat pendidikan dalam horizon yang lebih luas. Kurikulum bukan sekadar alat manajemen pendidikan, melainkan ikhtiar peradaban. Melalui kurikulum, sebuah masyarakat menentukan nilai apa yang diwariskan, pengetahuan apa yang dijaga, dan masa depan seperti apa yang ingin dibangun.

Kurikulum akan terus berubah, sebagaimana zaman terus bergerak. Namun, selama kurikulum dirancang dan dijalankan dengan kesadaran etis, keberpihakan pada manusia, dan keberanian reflektif, pendidikan akan tetap menemukan arah. Di titik inilah Kurikulum 5.0 tidak menjadi titik akhir, melainkan jembatan—menuju pendidikan yang lebih manusiawi, beradab, dan relevan dengan masa depan.

0 Komentar

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close