Air Tawar, Kateman – Hamparan lapangan SMP Swasta Dwipa Abadi, Desa Air Tawar, Kecamatan Kateman, menjadi saksi ikhtiar spiritual masyarakat yang menggelar Shalat Istisqa’, Jumat (13/2/2026). Di tengah kemarau yang kian terasa, warga, unsur desa, dunia pendidikan, dan perwakilan perusahaan berkumpul memohon turunnya hujan, seraya memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga alam dan mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Shalat dipimpin Imam dan Khatib, Ustadz M. Rh. Romadhan. Dalam khutbahnya, khatib mengingatkan jamaah agar senantiasa mengingat Allah, berpegang pada janji dan amanah, menjaga keseimbangan alam, serta memperbanyak taubat dan istighfar. Pesan itu disampaikan selaras dengan kondisi kemarau yang tidak hanya berdampak pada ketersediaan air, tetapi juga meningkatkan kerentanan lingkungan.
Kegiatan dihadiri Sekretaris Desa Air Tawar Nopriadi beserta perangkat desa, Ketua BPD Air Tawar M. Ilham Tarmizi, serta elemen sekolah. Kepala Sekolah SMP Dwipa Abadi Misbahudin, S.Ag., bersama majelis guru, siswa-siswi SMP Dwipa Abadi, serta majelis guru TK dan SD Dwipa Abadi, turut mengikuti rangkaian ibadah yang berlangsung khidmat dan tertib.
Perwakilan Sambu Group melalui Humas Ahlim Ginting hadir bersama Ade Barza dan Wengki, didampingi Sekretariat H. Wahyu, staf YBDA, serta karyawan PT Pulau Sambu dan STI. Dalam keterangannya, Ahlim Ginting menegaskan bahwa kehadiran pihak perusahaan bukan sekadar partisipasi seremonial, melainkan bentuk kepedulian sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.
Menurut Ahlim Ginting yang juga sebagai Pengurus YBDA, Shalat Istisqa’ memiliki dimensi edukatif yang kuat, khususnya bagi generasi muda. “Momentum ini penting sebagai pembelajaran nyata bagi siswa-siswi. Shalat Istisqa’ tidak dilaksanakan setiap waktu, sehingga kegiatan ini menjadi ruang edukasi keagamaan sekaligus penguatan nilai kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya. Ia menambahkan, kemarau harus dihadapi dengan sinergi, baik melalui ikhtiar spiritual maupun langkah-langkah preventif untuk meminimalkan risiko karhutla.
Ahlim Ginting juga mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga kewaspadaan selama musim kering. Ia menekankan bahwa menjaga alam bukan hanya tanggung jawab individu atau institusi tertentu, melainkan komitmen bersama. “Kemarau mengajarkan kita tentang pentingnya keseimbangan. Selain berdoa, upaya menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran lahan harus terus diperkuat,” katanya.
Di bawah terik matahari dan lapangan yang tampak mengering, jamaah mengikuti ibadah dengan penuh harap. Kemarau yang membingkai kegiatan tersebut terasa nyata, menghadirkan pesan kuat tentang kebersamaan, refleksi, dan tanggung jawab kolektif. Shalat Istisqa’ di Air Tawar bukan sekadar ritual, tetapi juga pengingat bahwa ikhtiar, edukasi, dan kepedulian lingkungan berjalan beriringan. (Rep/Leman)
0 Komentar