INDRAGIRI.com, OPINI - Mimpi buruk yang selama ini cuma jadi bahan diskusi di Twitter akhirnya beneran kejadian. Sabtu pagi (28/2/2026) langit Tehran, Isfahan, sampai Qom tiba-tiba memerah. Bukan karena sunset aesthetic, tapi rudal. AS bersama Israel resmi melancarkan serangan militer gabungan paling gede dalam 20 tahun terakhir ke wilayah Iran.
Trump
di Truth Social muncul dengan video singkat, dia mengakui bahwa "operasi
tempur besar-besaran" sudah dimulai. Katanya sih buat "melindungi
rakyat AS dengan melenyapkan ancaman rezim Iran." Targetnya? Hancurin
industri rudal Iran sampai ke akar-akarnya.
Di
sisi lain, Netanyahu ikut caper menyebut ini operasi bersama buat
"menyingkirkan ancaman eksistensial." Bahkan dia menyeru kepada rakyat
Iran untuk "membuang kuk tirani." Tapi ternyata, operasi yang
didesain bakal cepet kelar (swift and decisive) ini langsung mendapati
tembok beton strategi perang asimetris yang sudah dipersiapkan Iran dari
tahun-tahun sebelumnya.
Gak
pake lama, bro. Baru beberapa jam setelah sirine meraung di Tel Aviv-Yerusalem,
Iran langsung gas poll! Rentetan rudal balasan mulai menghujani
titik-titik strategis di beberapa kawasan:
- Markas
Armada Kelima AS di Bahrain kena hantam. Otoritas Bahrain lewat
BNA mengakui bahwa pusat layanan Angkatan Laut AS terkena serangan rudal.
- Pangkalan
Udara Al Udeid di Qatar (markas terbesar AS di Timur Tengah)
juga kena. Warga Doha mendengarkan ledakan keras dan sirine. Sistem
Patriot, katanya, berhasil mencegat satu rudal yang mengarah ke fasilitas
AS.
- Pangkalan
Al Dhafra (UEA), Al Salem (Kuwait), sampai wilayah Riyadh (Saudi) juga
masuk daftar sasaran gelombang pertama.
Pernyataan pejabat senior Iran ke Al Jazeera bikin merinding: "Pokoknya kagak ada garis merah. Semua aset AS dan Israel di Timur Tengah adalah target sah." Dewan Keamanan Nasional Iran (SNSC) juga langsung menggelar press rilis dengan judul "respons yang menghancurkan" dan angkatan bersenjatanya sudah mulai bertindak.
Ente tau gak apa yang paling nyesek di sini? Serangan ini terjadi persis saat kedua pihak sedang melakukan "proses diplomasi." Kemenlu Iran mengakui bahwa sebenarnya sudah tau "niat busuk" AS dan Israel buat nyerang, tapi mereka tetap beritikad baik untuk melakukan negosiasi.
Putaran ketiga perundingan tidak langsung antara Iran-AS baru saja kelar 26 Februari di Jenewa. Utusan Oman yang jadi mediator, Badr Albusaidi, bahkan sempat optimis dengan mengatakan bahwa kesepakatan berada "dalam jangkauan" dan tercapai kemajuan yang substansial. Iran disebut mengajukan proposal yang lebih oke dari JCPOA 2015, termasuk komitmen kagak akan lagi memperkaya uranium dan akan membuka akses verifikasi IAEA. Tapi Washington kayaknya kadung udah mengambil keputusan lain. Trump menuduh Iran "terus ngejar ambisi nuklir jahat." Tuduhan yang persis sama kayak George W. Bush pas mau invasi Irak 2003 dulu. Hmmm… Sejarah emang suka berulang, tapi kali ini keliatannya lebih berdarah.
REALITAS
LAPANGAN: Siapa yang Siap?
Di
tengah hiruk-pikuk berita, kita perlu membaca ulang peta konflik ini. Serangan
gabungan AS-Israel memang harus diakui dahsyat. Tapi kalo ngikutin
doktrin pertahanan Iran, serangan pembuka ini baru babak pertama dari drama
panjang yang mungkin gak bakal berakhir sesuai skenario Gedung Putih.
NYT dalam
analisisnya mewanti-wanti: Iran punya persediaan rudal balistik dan drone
terbesar di Timur Tengah. Rudal jarak menengah Iran bisa ngejangkau
1.900 kilometer yang mencakup seluruh Israel dan hampir semua basis militer AS
di kawasan.
Yang
lebih serem: Iran punya "jaringan proksi" alias Poros Perlawanan.
Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina. Emang sih
beberapa analisis bilang jaringan ini agak melemah akibat konflik sebelumnya,
tapi mereka masih punya kapasitas buat ngasak kota-kota besar Israel dan
fasilitas afiliasi AS.
Strategi
Iran jelas: bertahan dari gelombang pertama, lalu balas dengan serangan yang
bikin "biaya politik" lawan naik. Mereka kagak ngarep ngabisin
kekuatan AS secara militer, tapi nunjukin kalo eskalasi ini bakal menyeret
seluruh kawasan dan kagak bakal gampang diakhiri.
Data
sementara:
- Iran: 224
tewas (termasuk 4 personel militer)
- Israel: 24
tewas (akibat rentetan rudal balasan)
Angka
ini masih bisa naik, tentu !. Trump sendiri dalam pidatonya mengakui
"korban mungkin terjadi." Pengakuan langka dari presiden AS yang
biasanya jual perang sebagai operasi bersih tanpa risiko. Sinyal kalau Gedung
Putih sadar mereka sudah “membuka kotak Pandora” yang susah ditutup lagi.
Pertanyaan
besarnya: sanggupkah Washington bertahan jangka panjang?
Polling
pra-perang menunjukkan cuma sekitar 20% warga AS yang mendukung aksi
militer ke Iran. Basis loyalis MAGA sendiri tidak pernah antusias sama “petualangan
baru di Timur Tengah”. Kalau saja gambar kantong jenazah tentara AS mulai
bertebaran, pasti tekanan publik bakalan makin menggunung.
Jenderal
Dan Caine (Ketua Kepala Staf Gabungan AS) beberapa waktu lalu bahkan sudah memberikan
warning soal kekurangan amunisi untuk kampanye perang yang berkelanjutan.
Ini pengakuan telanjang dari dalam: mesin perang AS mungkin belum siap buat
ujian sesungguhnya. Apalagi dengan Pemilu Paruh Waktu November depan, Trump
sudah pasti bakal mikir seribu kali buat ngirim pasukan
darat - keputusan yang bisa bikin pemilih intinya Trump kabur, pasti dia kagak
mau.
Di
sisi lain, kepemimpinan Iran justru kompak. Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali
Khamenei emang belom keliatan (katanya sih sudah dipindahkan ke
lokasi aman), tapi sistem pemerintahan tetap jalan. Sekolah-univ ditutup, bank
tetap buka, pemerintah jamin pasokan kebutuhan pokok. Kalau dilihat dari fakta
ini, sama sekali bukan gambaran rezim yang sekarat.
SKENARIO KE DEPAN: Mau Kemana?
Konfrontasi
ini sudah masuk fase terbuka dan berbahaya. Tidak lagi main proksi atau
serangan terukur. Rudal langsung diluncurkan antarnegara.
Variabel-variabel
yang menarik untuk dicermati adalah:
- Seberapa
parah kerusakan infrastruktur militer Iran. Kalau
saja serangan AS-Israel beneran melumpuhkan industri rudal dan
fasilitas nuklir, kemampuan balas Iran bakal terbatas. Tapi kalo
Iran masih punya cadangan signifikan - dan pernyataan "kagak ada
garis merah" tadi jadi indikasi - gelombang kedua dan ketiga bakal
nyusul.
- Reaksi
poros proksi. Jika Hizbullah di Lebanon ikut full,
Israel bakal menghadapi perang dua front. Kalo Houthi mulai serang
kapal dagang di Laut Merah, ekonomi global bakal goyang. Selat
Hormuz (jalur 1/5 perdagangan minyak dunia) bakal jadi
variabel kritis. Gangguan sedikit saja bakal melambungkan harga energi dan
memicu inflasi global.
- Respons
internasional. Eropa, Rusia, China sudah menyerukan
kepada masing-masing pihak untuk mengendalikan diri. Tapi seruan itu cuma
hiasan jika eskalasi tetap berlanjut. Yang lebih bikin puyeng: Arab
Saudi dan UEA - yang jadi sasaran rudal Iran - kini di posisi sulit.
Mereka pengen jauhin konflik, tapi kedaulatan wilayah udah
dilanggar… Hadeuuhh.
Satu
hal jelas: apa yang dimulai sebagai "operasi tempur besar-besaran"
buat mengakhiri ancaman nuklir Iran, sudah berubah menjadi perang kawasan yang
berlarut-larut.
Iran
mungkin kalah secara teknologi militer, tapi jangan salah, mereka unggul dalam
"toleransi terhadap penderitaan" dan kemampuan bertahan. Rezim yang
sanggup bertahan lewat 8 tahun perang brutal sama Irak dan puluhan tahun sanksi
ekonomi, jamin kagak bakal tumbang cuma dalam beberapa hari gempuran
rudal.
Trump
dan Netanyahu mungkin memimpikan deklarasi kemenangan dalam hitungan hari. Tapi
kalau sejarah mencatat sesuatu tentang tanah Persia: negeri ini adalah
kuburan bagi pasukan penjajah yang kagak sabaran.
Kata-kata
Ebrahim Azizi (kepala komisi keamanan nasional parlemen Iran) bergema kayak
ramalan: "Kami udah peringatin kalian! Sekarang kalian udah mulai
jalan yang ujungnya kagak bakal bisa kalian kendalikan lagi."
Pertanyaannya
sekarang: apakah Washington siap berdarah-darah di negeri yang jauh buat waktu
yang tidak jelas? Jika tidak, ya "kemenangan kilat" cuma tinggal harapan.
Dan Timur Tengah bakal lagi-lagi tercatat sebagai saksi bisu ambisi kekuasaan
yang tidak berkesudahan.
‘Ala
kulli hal…. Pantengin terus update-nya, bro. Ini baru babak pertama.@
Sofiandi,
Lc., MHI., Ph.D
Guru
PAI di Bakti Mulya 400, juga tercatat sebagai Research Fellow di beberapa
lembaga seperti Fath Institute for Islamic Research Jakarta, IRDAK Institute of
Singapore, Asia-Pacific Journal on Religion and Society, Institute for
Southeast Asian Islamic Studies, Islamic Linkage for Southeast Asia, Anggota Dewan
Masjid Indonesia, Ketua Dewan Pembina Badan Koordinasi Muballigh Indonesia
Prov. Kepri, Anggota ICMI Prov. Kepri, Pembina Ikatan Wartawan Online Indonesia
Prov. Kepri, dan aktif menulis mengenai isu-isu pendidikan selain politik,
sosial, dan ekonomi.

0 Komentar