Breaking News

Gelar Nobar Film "Pesta Babi", Maparsa IAI Ar-Risalah Suarakan Isu Kemanusiaan dan Lingkungan Papua



INDRAGIRI.com, TAGARAJA – Mahasiswa Pecinta Alam (Maparsa) IAI Ar-Risalah Inhil-Riau sukses menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter "Pesta Babi" karya jurnalis investigasi Dandhy Dwi Laksono pada Sabtu malam, 25 April 2026. Bertempat di Cafe Kemuning Vibes, acara yang dimulai pukul 19.00 WIB ini bertujuan untuk membedah realitas perjuangan masyarakat adat Papua dalam mempertahankan hutan dan tanah ulayat mereka dari ancaman eksploitasi Proyek Strategis Nasional (PSN). Film ini secara mendalam menggambarkan bagaimana narasi ketahanan pangan dan energi sering kali berbenturan dengan perampasan ruang hidup penduduk asli serta kehadiran militer yang meminggirkan warga lokal di tanah kelahiran mereka sendiri.

Ketua Panitia, Rizki Aidil, mengungkapkan bahwa agenda ini dirancang bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai wadah edukasi bagi pemuda dan mahasiswa di Sungai Guntung. Menurutnya, isu perampasan lahan dan pembabatan hutan di Papua merupakan cerminan dari tantangan lingkungan yang lebih luas, sehingga penting bagi rekan-rekan mahasiswa untuk memahami relasi kuasa yang terjadi di balik kebijakan pembangunan nasional. Selain sebagai ruang belajar, panitia juga mengemas acara ini dengan misi kemanusiaan melalui sistem tiket sukarela, di mana seluruh donasi yang terkumpul akan disalurkan sepenuhnya untuk membantu para pengungsi Papua yang kehilangan tempat tinggal akibat konflik dan eksploitasi lahan.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Maparsa IAI Ar-Risalah Inhil-Riau, Andi Farhan Maulana, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk konsistensi organisasi dalam menyuarakan isu-isu agraria dan kemanusiaan. Ia berharap melalui visualisasi dokumenter ini, kesadaran kolektif mahasiswa mengenai pelestarian alam dan perlindungan hak masyarakat adat dapat semakin meningkat. Andi juga menekankan bahwa solidaritas terhadap masyarakat Papua harus terus dipupuk karena mereka merupakan garda terdepan dalam menjaga kelestarian hutan yang menjadi paru-paru dunia, sehingga dampak yang mereka rasakan saat ini sejatinya adalah peringatan bagi semua pihak untuk lebih peduli terhadap ekosistem di lingkungan sendiri.

Momentum nobar ini juga dimanfaatkan sebagai ajang refleksi untuk menjaga kebersihan lingkungan lokal, khususnya di Kecamatan Kateman. Dalam pesannya, Andi mengajak masyarakat untuk mulai bergerak dari hal-hal kecil, seperti tidak membuang sampah rumah tangga ke laut atau tempat sembarangan yang dapat merusak ekosistem perairan. Meskipun membakar sampah dianggap belum menjadi solusi jangka panjang yang ideal, langkah tersebut dinilai lebih baik daripada membiarkan limbah individu mencemari laut. Pihak Maparsa menekankan bahwa persoalan sampah di Kateman memerlukan komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi yang kuat antara warga dan pihak terkait agar segera ditemukan solusi pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang pemutaran film hingga sesi diskusi berakhir, salah satunya disampaikan oleh Rifal, seorang penonton yang hadir dalam acara tersebut. Rifal mengaku sangat terkesan dengan kedalaman informasi yang disajikan dalam film "Pesta Babi" karena memberikan sudut pandang yang jarang tersentuh oleh media arus utama, terutama mengenai dampak psikologis dan fisik yang dialami warga akibat kehilangan hutan adat. Melalui kegiatan nobar yang digagas oleh Maparsa ini, diharapkan muncul diskusi-diskusi lanjutan yang lebih konstruktif di kalangan mahasiswa IAI Ar-Risalah dan masyarakat umum di Indragiri Hilir demi terciptanya tatanan sosial yang lebih adil terhadap lingkungan dan manusia. (Rep/Leman)

0 Komentar

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close