INDRAGIRI.com, Kabupaten Indragiri Hilir (pernyataan disampaikan di Pekanbaru) - PEKANBARU - Ketidakseimbangan antara tingginya angka produksi dengan terbatasnya kapasitas penyerapan industri dalam negeri membuat harga jual kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, mengalami penurunan tajam. Merespons kondisi yang menekan perekonomian petani tersebut, Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Riau I, Dr Syahrul Aidi Maazat mendesak pemerintah segera turun tangan melakukan intervensi harga dan mengevaluasi kebijakan ekspor kelapa. Menurut Syahrul, persoalan utama yang memicu anjloknya harga komoditas perkebunan ini berakar pada ketidakmampuan pabrik domestik menampung seluruh hasil panen. Saat ini, angka produksi kelapa di Inhil diperkirakan menembus 6,95 juta butir setiap harinya.
Namun, kapasitas industri pengolahan dalam negeri baru sanggup menyerap sekitar 2 juta butir per hari. Akibatnya, jutaan butir kelapa menumpuk di tingkat petani sehingga memperlemah posisi tawar mereka dalam menentukan harga jual di pasaran. "Kalau produksi 6,95 juta itu bisa terserap dengan sempurna, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor, tentu harga akan lebih baik dan petani akan mendapatkan keuntungan," urainya, Ahad (23/8/2026). Evaluasi Aturan Ekspor di Tengah Transisi Hilirisasi Lebih jauh, ia menilai agenda hilirisasi kelapa yang digaungkan pemerintah sejatinya merupakan langkah positif untuk mengerek nilai tambah komoditas.
Kendati demikian, penerapannya tidak boleh mematikan urat nadi perekonomian masyarakat akar rumput ketika infrastruktur pabrik belum siap sepenuhnya. Syahrul menegaskan bahwa akses pasar luar negeri atau ekspor masih menjadi jalan keluar paling rasional selama pabrik lokal belum mampu menelan seluruh pasokan dari kebun warga. Pengetatan keran ekspor saat ini dinilai kurang tepat dan justru merugikan petani di lapangan. "Jangan sampai kebijakan yang tujuannya baik untuk hilirisasi justru membuat petani menjadi korban karena hasil produksinya tidak terserap.
Hilirisasi harus berjalan, tetapi pasar ekspor juga harus tetap menjadi bagian dari solusi selama kapasitas industri dalam negeri belum mencukupi," tegasnya. Potensi Kesejahteraan dari Intervensi Pasar Apabila hasil panen dapat tersalurkan secara maksimal ke pasar domestik maupun mancanegara, harga kelapa diyakini akan kembali merangkak naik. Ia memproyeksikan, dengan rantai penyerapan yang sehat, harga kelapa berpotensi menyentuh angka Rp7.000 per kilogram seperti masa kejayaannya. Sembari menunggu realisasi percepatan pembangunan industri pengolahan lanjutan di Inhil, pemerintah pusat dituntut untuk mengambil langkah taktis.
Ketersediaan akses pasar yang luas menjadi syarat mutlak agar kelapa tidak membusuk di gudang petani dan harganya tetap stabil.
Sumber : Internet
0 Komentar