Headlines News :

Berterima Kasihlah Kepada Istri

by Jamil Azzaini

Saya yakin Anda sepakat dengan saya bahwa keberhasilan suami dan anggota keluarga sangat ditentukan oleh dukungan istri. Hubungan yang buruk dengan istri bisa membuat suasana hati kacau dan berdampak pada buruknya kualitas pekerjaan sang suami. Oleh karena itu wahai suami, marilah berterima kasih kepada istri kita. Begitu pula, keberhasilan anak-anak sangat ditentukan oleh kiprah, sepak terjang dan pengorbanan sang ibu.

Pengorbanan istri begitu besar kepada keluarga. Diantara pengorbanan besar yang rela mereka lakukan adalah mengganti, “mengerem” atau bahkan “mengubur” mimpi-mimpi mereka demi kepentingan keluarga. Orang sekelas Direktur Utama, ibu Karen Agustiawan, mengundurkan diri dari Pertamina salah satu alasanya untuk kepentingan keluarga.

Berani mengganti, “mengerem” atau bahkan hingga “mengubur” mimpi bukanlah keputusan yang ringan. Sebab, dalam dunia personal development, semua pasti tahu pentingnya mimpi atau visi hidup. Visi atau mimpi hidup menjadi sumber energi bagi siapapun yang memilikinya. Ia menjadi kompas bagi yang telah menyusunnya. Ia menjadi sesuatu yang bisa membuat harga diri pembuatnya semakin tinggi bila terwujud.

Namun ternyata, seorang istri rela meletakkan itu semua demi kepentingan suami dan anaknya. Ia rela menjadi teman bicara sepanjang hari bagi anak dan suaminya. Ia rela belajar ilmu baru agar bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas anak dan suaminya. Ia sangat ingin anaknya tumbuh di atas rata-rata teman sebayanya. Ia menjadi mentor, coach, sahabat, dan sparing partner bagi anaknya.

Saat sang suami galau dan gelisah, istrilah orang pertama yang menjadi tempat curhatnya. Dan, hebatnya, istri menghentikan semua aktivitasnya demi ketenangan hati sang suami. Bukan hanya itu, ia rela mengalihkan menggunakan waktu produktifnya untuk suaminya dan mengorbankan semua aktivitasnya.

Kebahagiaanya adalah ketika suaminya melaju lebih cepat, berkembang menjadi “bintang” punya kepercayaan diri yang tinggi dan suami memiliki legacy yang ditinggalkan untuk semesta. Ia cukup bangga dengan itu semua, walau ia terkadang harus “mengubur” mimpi-mimpi hidupnya.

Wahai para suami, marilah kita berlomba untuk berterima kasih kepada istri kita.

Salam SuksesMulia!

Sumber: http://jamilazzaini.com/berterima-kasihlah-kepada-istri/

MENGGUGAT MADZHAB KEKUASAAN DALAM FIKIH KEBHINEKAAN VERSI ISLAM NUSANTARA

Oleh : DR. H. Abdul Chair Ramadhan, SH, MH, MM.(Komisi Kumdang MUI Pusat & Ketua TAM-NKRI)

Kata Nusantara tercatat pertama kali dalam literatur berbahasa Jawa Pertengahan (abad ke-12 hingga ke-16) untuk menggambarkan konsep kenegaraan yang dianut Majapahit. Nusantara berasal dari dua kata bahasa Sanskerta, yaitu Nusa yang berarti “pulau” dan Antara yang berarti “luar”. Jadi, pada awalnya kata Nusantara itu menunjuk pada “pulau lain” di luar Jawa dan merupakan daerah taklukan Majapahit.

Ide penyatuan pulau-pulau di luar Jawa di bawah kekuasaan Majapahit inilah yang mendorong Majapahit melakukan ekspansi kekuasaan. Dapat dikatakan disini, bahwa kata Nusantara lahir dalam konteks ekspansi kekuasaan di bawah kekuasaan absolut sang Raja.

Barulah pada masa kekinian, Nusantara diartikansebagai keterhubungan antar pulau, bukan sebaliknya. Sedangkan dalam Islam, kekuasaan bukan suatu hal yang absolut. Kekuasaan diatur dan di bawah ketentuan syariat Islam. Syariat Islam juga tidak mengenal batas-batas yuridiksi kedaulatan negara dalam konteks modern sekarang. Jelasnya, Islam tidak mengenal territorial. Islam itu satu dan merujuk pada yang satu (sama) yaitu Al-Qur’an dan As-Sunah.

Islam Nusantara sebagaimana sedang digalakkan oleh pemerintah menunjuk kepada suatu target besar, yakni menghadirkan pemerintahan yang lebih prima dibandingkandengan sistem ajaran keagamaan Islam. Dengan demikian, dimunculkanlah Fikih Kebhinekaan yang menjunjung tinggi kekuasaan negara. Ide Islam Nusantara yang sedang digalakkan ini, bukan tidak mungkin akan melahirkan suatu Madzhab Kekuasaan dalam rangka melanggengkan rezim yang berkuasa. Jika Patih Gadjah Mada menyatakan dalam Sumpah Palapanya akan mengalahkan “pulau-pulau lain”, maka konsep Islam Nusantara akan menegasikan ajaran Islam yang tidak sejalan dengan pemikiran kaum Liberalis.

Kaum Liberalis inilah yang akan menjadikan Islam Nusantara melalui Fikih Kebhinekaan sebagai Madzhab Kekuasaan.Ajaran Islam tentang ketatanegaran tidak lagi dilihat sebagaisuatu kebutuhan. Madzhab Kekuasaan itulah yang menjadi pilar bagi penguasa di Nusantara. Menjadi sama persis dengan tujuan ekspansi Patih Gadjah Mada. Gagasan Islam Nusantara, sejatinya adalah didasarkan kepada kepentinganpolitis kaum Liberalis yang memang terkenal “arogan dalampemikiran”, menembus batas-batas toleransi intelektual.

Pernyataan Jokowi “Islam kita adalah Islam Nusantara, Islam yang penuh sopan santun, Islam yang penuh tata krama, itulah Islam Nusantara, Islam yang penuh toleransi,” menunjukkan ketidakmengertiannya tentang Islam. Pernyataan itu seolah-olah ingin mengatakan bahwa Islam di luar Nusantara, tidak mengedepankan sopan santun, tata karma, dan tidak ada toleransi.

Toleransi yang dimaksudkandalam konsep Islam Nusantara tidak lain mengacu kepada pemikiran HAM versi Barat yang memang mengusung kebebasan (liberty) secara absolut. Banyak pihak yang memang diuntungkan dengan konsep Islam Nusantara ini. Di bawah Islam Nusantara, semua pemikiran dan aliran sesat memiliki hak yang sama, tanpa ada pelarangan.

Menjadi jelas, bahwa apa yang diperjuangkan dalam gagasan Islam Nusantara sebenarnya adalah untuk menjadikan sistem ketatanegaraan Indonesia ke arah kekuasaan belaka. Penguasa akan sangat dikuatkan dengankonsep Islam Nusantara melalui Fikih Kebhinekaan itu.

Ciri khas Madzhab Kekuasaan adalah menjadikan hukum positif(Undang-undang)sebagai landasan kekuasaan. Di luar undang-undang bukanlah hukum. Undang-undang yang dihasilkan dalam proses di legislatif juga harus mengacu kepada Fikih Kebhinekaan vesi kaum Liberalis, yang menampung berbagai pemikiran-pemikiran sesat. Keberlakuan syariat Islam yang benar sudah tidak lagi menjadi dasar pemikiran dalam pembentukan peraturan perundang-undangan.

Rasio berada di depan dan menjadi “panglima” dalam pengambilan keputusan. Upaya perjuangan “NKRI bersyariah” akan semakin dihadapkan dengan Fikih Kebhinekaan karya kaum Liberalis yang berkolaborasi dengan kaum Sekularis, Pluralis dan penganut Aliran Sesat. Di sisi lain, rezim juga diuntungkan dengan penguatan kaum Sepilis dan Aliran Sesat ini. Tidak ada kata sepakat untuk menjadikan Indonesia sebagai IslamNusantara. Islam lebih mulia dibandingkan dengan Nusantara.

Nusantara adalah salah satu wilayah berlakunyahukum Islam. Sepantasnya, Nusantara yang harus menyesuaikan diri dengan nilai-nilai Islam, bukan sebaliknya. “Islam Yes”, “Nusantara Oke”, tetapi “Islam Nusantara No”.

Sumber : fb habib rizieq shihab

Hindari Sikap Mencela Anak

DALAM ungkapan bijak disebutkan, sesungguhnya banyak melakukan celaan terhadap anak akan mengakibatkan penyesalan. Teguran dan celaan yang berlebihan akan berakibat anak makin berani melakukan tindakan keburukan dan hal-hal tercela.
Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam adalah orang yang paling menghindari hal tersebut. Beliau tidak banyak melakukan teguran terhadap anak dan tidak pula banyak mencela sikap apa pun yang dilakukan oleh anak. Tidaklah sekali-kali NabiShalallaahu ‘Alahi Wasallam mengambil sikap ini, termasuk dalam menanamkan perasaan punya malu serta menumbuhkan keutamaan sikap mawas diri dan ketelitian yang berkaitan erat dengan akhlak mulia.
Semua sentuhan pendidikan yang begitu tinggi dari Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallampernah dialami Anas r.a yang pernah melayani Rasulullah, sebagaimana diungkapkan melalui hadits berikut:
“Aku telah melayani Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan: `Mengapa engkau lakukan?’ Dan pula tidak pernah mengatakan: ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’” (Bukhari, Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Tidaklah sekali-kali beliau memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian aku menangguhkan pelaksanaannya atau menyia-nyiakannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari ahli baitnya mencelaku, justru beliau membelaku: ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah akan terjadi.’” (Ahmad)
Sehubungan dengan hal ini, barangkali seseorang akan mengatakan, “Seandainya kita bersikap lemah-lembut dan banyak toleran, tentulah anak akan bertambah berani melakukan pelanggaran dan kita tidak bisa mengarahkan atau membimbingnya lagi.” Untuk ini penulis katakan, “Mengapa tidak berbuat kurang ajar, baik Anas, Ibnu `Abbas, Zaid Ibnu Haritsah, dan putranya Usamah Ibnu Zaid, anak-anak Ja`far, anak-anak pamannya, Al-‘Abbas, maupun anak-anak lainnya, yang pendidikan mereka ditangani oleh Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallamsehingga mereka menjadi tokoh dan para imam pemberi petunjuk?
Orang yang tidak menyukai metoda pendidikan yang dilakukan oleh Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam atau memandang bahwa selain metoda Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam ada metoda yang lebih baik, atau ada upaya melakukan perbaikan atau modifikasi atas metoda Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam, tentulah anak seperti Ibnu ‘Abbas tidak akan menjadi seorang Ibnu ‘Abbas bila dididik olehnya, tetapi akan menjadi seorang yang paling buruk perangainya. Demikian pula akan terjadi kegagalan dalam mendidik Usamah atau Anas.
Dalam memberikan pendidikan, Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam telah pula berinteraksi dengan sejumlah pemuda berwatak aneh. Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam pernah berinteraksi dengan seorang pemuda yang datang kepadanya meminta izin untuk berzina, maka beliau memperlakukannya dengan lembut dan cara yang bijaksana sehingga mampu mengganti langkah pemuda itu menuju jalan keselamatan dan tobat.
Beliau pernah berinteraksi dengan para pemuda yang suka membuat keonaran, yaitu mereka yang suka melempari pohon kurma milik orang lain untuk mengambil buahnya yang sudah masak. Demikian pula beliau pernah berinteraksi dengan pemuda Nasrani yang pada saat-saat terakhir dari usia sang pemuda beliau menyerunya untuk masuk Islam. Akhirnya, sang pemuda mau masuk Islam setelah meminta izin kepada orang tuanya yang beragama Nasrani melalui isyarat matanya.
Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam pernah berinteraksi dengan sejumlah orang yang suka berbuat kesalahan, kemaksiatan, dan suka minum khamr, namun pada akhirnya mereka keluar keadaan sadar dan kembali ke jalan yang benar. Hal ini dinyatakan berdasarkan pengakuan mereka sendiri bahwa mereka belum pernah melihat seorang mu’allim (pengajar) pun yang lebih lembut dan lebih baik pengajarannya selain beliau. Masing-masing dari mereka diperlakukan oleh Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam dengan sikap yang lembut dan bijaksana, sehingga hasilnya benar-benar 100% sangat positif.
Akan tetapi memang benar, perbedaannya ialah kita terlalu cepat mengambil keputusan dan sangat tergesa-gesa untuk meraih hasil, tanpa mau bersikap sabar dan telaten, padahal NabiShalallaahu ‘Alahi Wasallam sering berpesan kepada kita untuk bersabar, sebagaimana beliau bersabar dalam mendidik ketiga anak perempuannya dengan telaten dan memperlakukan mereka dengan baik.
Nasihat Al-Ghazali
Al-Imam Al-Ghazali mempunyai nasihat yang sangat berharga untuk para murabbi. Ia mengatakan: “Jangan Anda banyak mengarahkan anak didik Anda dengan celaan setiap saat, karena sesungguhnya yang bersangkutan akan menjadi terbiasa dengan celaan. Akhirnya, ia akan bertambah berani melakukan keburukan, dan nasihat pun tidak dapat mempengaruhi hatinya lagi. Hendaklah seorang pendidik selalu bersikap menjaga wibawa dalam berbicara dengan anak didiknya. Untuk itu, janganlah ia sering mencelanya, kecuali hanya sesekali saja, dan hendaknya sang ibu membantu anaknya hormat pada ayahnya serta membantu sang ayah mencegah sang anak dari melakukan keburukan.” (Ihya `Ulumuddin juz 3).*
Dari buku Tahapan Mendidik Anak Teladan Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallamkarya Jamaal ‘Abdur Rahman.

Berhumor dan Berlapang Dada dengan Istri

SEORANG muslim tidak mengabaikan upaya pembebasan kebosanan atas rutinitas kehidupan bersama istrinya. Untuk itu ia menghiasi hari-hari kehidupan mereka dengan humor-humor lembut dan permainan-permainan kecil dari waktu ke waktu.
Dalam melakukannya, ia mesti mengikuti contoh keteladanan Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam. Meskipun Nabi senantiasa sibuk dengan sebagian besar tugas membangun fondasi Islam, membangun umat Muslim, memimpin pasukan dalam jihad, dan sejumlah hal lainnya, beliau tidak pernah lalai menjaga diri menjadi seorang suami ideal bagi para istri beliau.
Nabi memperlakukan para istrinya sebaik mungkin, dengan selalu memberikan wajah tersenyum dan sesekali memberikan sentuhan humor lembut. Sebuah contoh diriwayatkan dari Aisyah r.a. yang mengatakan:
“Aku mendatangi Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam dengan beberapa harirah (makanan yang dibuat dengan tepung dan susu) untuk beliau, dan berkata kepada Saudah r.a. –karena Nabi duduk di antara aku dan ia– makanlah. Ia menolak, maka aku berkata, ‘Engkau makan atau aku akan memenuhi wajahmu (dengannya)!’
Ia tetap menolak, maka aku letakkan tanganku di harirah dan memulas wajahnya. NabiShalallaahu ‘Alahi Wasallam tertawa, mengambil beberapa harirah dan meletakkan di tangan Saudah, dan berkata kepadanya: Lakukan hal yang sama padanya! Dalam riwayat lain: Beliau menurunkan lututnya (berpindah dari tempat itu) sehingga ia dapat membalas kepadaku, kemudian ia mengambil beberapa dari nampan dan menaburi wajahku dengannya, dan NabiShalallaahu ‘Alahi Wasallam tertawa.”
Ini merupakan contoh toleransi dan tindakan mudah secara natural yang membuat seorang istri gembira melalui sebuah humor dan sikap berhati lapang.
Aisyah r.a. juga meriwayatkan bahwa suatu waktu ia dalam perjalanan bersama Nabi. Ia menantang beliau untuk berlomba lari dan menang. Selanjutnya, ketika ia bertambah berat (gemuk), ia berlomba lari kembali, namun pada waktu ini beliau menang, dan berkata kepadanya, “Ini balasan untuk yang itu.”
Nabi juga sering membuat istri tercintanya merasa gembira untuk menikmati beberapa jenis hiburan tak berdosa, yang akan membuat hatinya gembira. Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa pada satu kesempatan:
“Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam sedang duduk, dan beliau mendengar suara beberapa orang dan anak-anak di luar. Ada sekelompok orang mengelilingi beberapa orang Abbasiah yang menari. Beliau berkata: ‘Hai Aisyah, kemarilah dan lihatlah!’ Aku meletakkan pipiku di bahu beliau dan melihat melalui celah. Kemudian beliau berkata: ‘Hai Aisyah, apakah kamu sudah puas, apakah kamu sudah puas?’ Aku berkata: ‘Belum’ hanya untuk mengetahui berapa besar arti diriku bagi beliau, dan aku melihat beliau mengubah tumpuan berat beliau dari satu kaki ke yang lain (yaitu beliau lelah, namun beliau tetap berdiri selama ia [Aisyah] ingin melihat tontonan tersebut).”
Dalam riwayat lain Aisyah berkata:
“Demi Allah, aku melihat Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam berdiri di pintu kamarku, ketika beberapa orang Abbasiah memainkan lembing di masjid. Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam menutupiku dengan jubah beliau, sehingga aku dapat melihat permainan lembing di belakang punggung beliau. Beliau tetap di sana karena diriku, sehingga aku merasa puas. Maka berikan perhatian kepada kebutuhan gadis mudamu akan hiburan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Seorang muslim juga tidak seharusnya bersikap keterlaluan dan menjadi marah karena alasan sepele, dengan menciptakan kegaduhan, antara lain, ketika istri memberi makanan yang tidak mereka sukai, sedikit telat, atau beberapa alasan lain. Dengan mengikuti keteladanan Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam, seorang suami dapat bersikap lapang dada, baik, dan toleran kepada istrinya.
Salah satu karakter Nabi adalah beliau tidak pernah mencela makanan. Jika beliau suka, beliau memakannya, dan jika beliau tidak suka, beliau hanya membiarkannya. (Muttafaqun `alaih).
Pernah Nabi meminta kepada keluarganya beberapa makanan sederhana yang hendak beliau makan dengan rati. Mereka berkata kepada beliau: “Kami tidak memiliki apa pun kecuali sedikit cuka.” Beliau meminta mereka untuk membawanya dan berkata: “Betapa bagus makanan sederhana adalah cuka.” (HR. Muslim).
Dan boleh jadi seorang istri mungkin menjadi marah karena beberapa hal, kemudian ia `pergi’ dari suaminya untuk menunjukkan kemarahannya. Dalam masalah ini, suami muslim mesti menanggapinya dengan toleransi dan kebaikan, yang didasarkan pada pandangan mendalam atas psikologi dan sifat perempuan, sebagaimana Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallammemperlakukan istri-istrinya setiap kali mereka marah terhadap beliau dan `berpaling’ dari beliau sepanjang hari hingga malam datang.
Umar bin Khattab r.a. berkata:
“Kami kaum Quraisy memiliki kendali atas perempuan (istri-istri) kami. Ketika kami datang ke Madinah kami menemukan seseorang yang perempuannya mengendalikan (mengontrol) mereka, dan istri-istri kami mulai belajar dari perempuan-perempuan mereka. Aku tinggal di Al-Awali di antara Banu Umayah bin Zayd. Suatu hari istriku marah denganku dan mendebatku. Aku tidak suka hal ini, namun ia mengatakan kepadaku, ‘Apakah engkau tidak suka aku mendebatmu? Demi Allah, para istri Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam berdebat dengan beliau. Mereka marah dan berpaling dari beliau sepanjang hari hingga malam tiba! Maka aku pergi untuk menemui Hafsah dan bertanya kepadanya, ‘Apakah engkau berdebat dengan Nabi?’ Ia menjawab. ‘Ya’. Aku bertanya padanya, ‘Apakah engkau marah dan berpaling dari beliau sepanjang hari hingga malam menjelang?’ Ia menjawab, ‘Ya’. Aku berkata: ‘Orang yang melakukan hal itu akan mati dengan celaka! Apakah engkau tidak takut murka Allah akibat kemarahan Nabi-Nya? Segera engkau akan dikutuk! Jangan berdebat dengan Rasulullah, dan jangan minta apa pun dari beliau. Minta kepadaku apapun yang kamu butuhkan.’” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Al-Nasa’i). Umar datang kepada NabiShalallaahu ‘Alahi Wasallam dan berkata kepada beliau tentang apa yang terjadi di rumahnya, dan percakapannya dengan Hafsah, dan Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam tersenyum.
Maka setiap muslim hendaknya mengembangkan sikap toleran ini, yakni mengikuti contoh keteladanan Nabi dalam perilaku dan tindakannya. Jika prinsip utama ini dilaksanakan oleh suami, maka akan mengakhiri percekcokan dan ‘perpecahan’ dalam kehidupan keluarga, dan akan memberikan kedamaian, stabilitas, kebahagiaan, dan keamanan dalam rumah tangga.*
Dari buku It’s My Life karya Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi.

Rapat Pleno Pengundian dan Penetapan Nomor Urut Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Inhu Tahun 2015

Rengat - Sesuai jadwal yang ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), hari ini Rabu, (26/8) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Inhu menggelar kegiatan Pengundian dan Penetapan nomor urut Kedua pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Inhu tahun 2015 yang akan bertarung dalam pilkada serentak 9 desember mendatang.
 
Sebelumnya, dengan pengawalan para personil Polisi dan TNI, kedua pasangan calon bersama rombongan pendukungnya melakukan konvoi yang dimulai dari Lapangan Hijau Rengat menuju tempat pelaksanaan Rapat Pleno Penentuan dan Penetapan Nomor Urut Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati  Inhu tahun 2015 di Gedung Olahraga (GOR) Danau Raja Rengat.
 
Kedatangan rombongan kedua pasangan calon di GOR Danau Raja, disambut langsung oleh Ketua KPU Inhu beserta para anggota, Penjabat (Pj) Bupati Inhu H. Kasiarudin, SH, Plt Sekda H. Agus Rianto, SH, Ketua DPRD Kab. Inhu Miswanto, Dandim 0302 Inhu Edison S Sinabutar, Kapolres Inhu AKBP Ari Wibowo, S.Ik, Ketua Pengadilan Negeri Rengat, seluruh Camat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda serta perwakilan dari Perguruan Tinggi dan para ketua partai pengusung kedua pasangan calon.
 
Selaku perwakilan Ketua KPU Provinsi Riau, Abdul Hamid menyampaikan bahwa hari ini, selain kabupaten Inhu, ada tiga kabupaten lain yang juga menggelar pelaksanaan kegiatan penentuan dan penetapan nomor urut pasangan calon bupati dan wakil bupati. Sedangkan enam kabupaten lainnya sudah melaksanakan sehari sebelumnya. Ini sudah sesuai dengan jadwal yang ditetapkan KPU untuk menggelar proses tahapan tersebut pada tanggal (25-26/8).
Dengan prestasi terbaik yang pernah diperoleh KPU Inhu dalam penyelenggaraan pemilu lalu, diharapkan dalam pelaksanaan proses tahapan pilkada tahun ini juga dapat terlaksana dengan sukses.
 
Penjabat (Pj) bupati inhu H. Kasiarudin, SH  menyambut baik pelaksanaan kegiatan ini. Ini merupakan bagian dari tahapan proses pelaksanaan Pilkada yang serentak dilaksanakan diseluruh Indonesia pada 9 desember mendatang. Diharapkan, melalui kegiatan ini menjadi momentum yang baik demi mewujudkan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati yang berkualitas sesuai dengan aturan-turan yang sudah ditetapkan.
 
Ia juga mengapresiasi kelancaran berbagai proses tahapan yang sudah dilalui dalam pelaksanaan Pilkada ini. Selaku pemerintah, ia akan mendukung sepenuhnya suksesnya pelaksananaan pilkada ini, dan ia juga berpesan khususnya kepada para Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk dapat menjaga kenetralitasan dalam pelaksanaan pilkada nanti.
 
Sebagai Penjabat Bupati Inhu, selain menyelenggarakan proses pemerintahan agar tetap berjalan baik, tanggung jawab dalam memfasilitasi pelaksanaan Pilkada di Inhu juga menjadi bagian dari tugasnya. Maka dari itu, ia mengharapkan kepada seluruh elemen untuk dapat mendukung dalam mensukseskan pelaksanaan Pilkada di kabupaten Indragiri Hulu.
Secara khsusus, ia juga berpesan kepada kedua pasangan calon, untuk dapat mengikuti pelaksanaan pilkada ini dengan mengedepankan semangat sportifitas yang tinggi dengan menerima siapapun yang nantinya akan terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati periode mendatang.
 
Dalam kesempatan itu, KPU Inhu juga memperkenalkan maskot Pilkada Inhu tahun 2015 yaitu maskot Ikan Patin yang dianggap sebagai ciri khas dari Kabupaten Inhu. Dengan sebutan Bang Patin serta dengan slogan bersahaja, diharapkan dalam pelaksanaannya nanti pencapaian pilkada yang Berintegritas, Santun,  Amanah, Bersih, Aman, Jujur dan Adil dapat terwujud.
 
Sebelum membuka secara resmi pelaksanaan kegiatan ini, Ketua KPU Inhu Muhammad Amin mengatakan bahwa pelaksanaan proses tahapan penentuan dan penetapan nomor urut pasangan calon bupati dan wakil bupati tahun 2015 ini, sudah sesuai dengan aturan PKPU nomor 2 tahun 2015 tentang tahapan, program dan jadwal pilkada. Berbagai agenda acara nantinya akan dilaksanakan mulai dari pengundian, penetapan dan pembacaan ikrar kampanye damai bagi kedua pasangan calon.
 
Dalam pelaksanaan pengundian ini sendiri, dilakukan dalam dua tahap yakni, pengambilan nomor cabut lot dan pengambilan nomor urut.
Pada sesi pengambilan nomor lot yang dilakukan oleh masing-masing calon wakil bupati, Khairizal, mendapatkan nomor  5 dan Hj. Aminah memperoleh 4. Dengan demikian pasangan H. Tengku Mukhtarudin-Hj. Aminah mendapatkan kesempatan pertama dalam pengambilan nomor urut.
 
Sedangkan pada sesi pengambilan nomor urut oleh masing-masing kedua pasangan calon Bupati, pasangan H. Yopi Arianto, SE-Khairizal, SE mendapatkan nomor urut 2. Dengan demikian sesuai aturan dalam pengundian tersebut, pasangan H. Yopi Arianto, SE-Khairizal memperoleh nomor urut 2 dan pasangan H. Tengku Mukhtarudin-Hj. Aminah memperoleh nomor urut 1.
 
Usai pengundian, kedua pasangan calon bupati dan wakil bupati juga membacakan ikrar kampanye damai yang wajib ditaati oleh kedua pasangan calon dalam pelaksanaan kampanye nanti. Selanjutnya, kedua pasangan calon melakukan penandatanganan ikrar tersebut yang diikuti penandatanganan yang sama oleh Pj Bupati Inhu H. Kasiarudin, SH, Ketua KPU Inhu Muhammad Amin, beserta anggota dan Ketua Panwas Kab. Inhu Mulya Santoni, S.Pi, serta Kapolres Inhu AKBP Ari Wibowo,S.Ik, sebagai saksi dalam ikrar kampanye damai pilkada Inhu tahun 2015.
 
Sementara itu, dalam sambutan singkatnya Kapolres Inhu AKBP Ari Wibowo juga menyatakan kesiapan para anggotanya bersama Kodim 0302 Inhu dalam mengamankan pelaksanaan proses Pilkada agar dapat berlangsung sukses dan lancar.
 
Maka dari itu, dalam kesempatan tersebut Polres Inhu juga membacakan nama-nama 13 personilnya yang nanti akan bertugas melakukan pengawalan melekat kepada kedua pasangan calon bupati dan wakil bupati serta Ketua KPU dan para anggota KPU.(hms)

sumber : inhukab.go.id

242 PNS di Inhil Terima Satyalancana Karya Satya, HM Wardan: Tingkatan Kualitas Diri, Agar Jadi Contoh untuk yang Lain

TEMBILAHAN, Bersempena dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI), sebanyak 242 Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab), Indragiri Hilir (Inhil), Riau menerima penganugerahan tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya di gedung Engku Kelana Tembilahan, Jumat (14/8/2015).

Penyematan lencana Satyalancana Karya Satyadilakukan oleh Bupati Inhil, HM Wardan, dimana dalam kesempatan itu turut hadir unsurForum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) seperti Ketua DPRD Inhil, Dani M Nursalam dan Dandim 0314 Inhil, Letkol Djarot serta perwakilan Forkopimda lainnya.

Satyalancana Karya Satya itu diberikan kepada PNS yang telah mengabdi selama 30 tahun, 20 tahun dan 10 tahun, dari 242 PNS, penganugerahan 30 tahun diterima sebanyak 95 PNS , 20 tahun sebanyak 112 dan 10 tahun 35 PNS.

Bagi para penerima penganugerahan dari Presiden RI itu, Bupati meminta agar lebih memacu kedisiplinan, rasa tanggung jawab, kejujuran dan semangat dalam bekerja.

Karena, tidak semua PNS bisa mendapatkan penganugerahan ini, untuk itulah kenapa, bagi yang telah menerima dikatakan mantan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau itu, untuk menyikapinya dengan rasa syukur serta dibarengi dengan meningkatkan kualitas sebagai abdi Negara.

''Anugerah ini merupakan suatu kebanggaan selaku PNS, maka dari itu, tingkatkan lagi kualitas diri hinnga bisa jadi suri tauladan bagi PNS lainnya,'' tukas HM Wardan.(ayu)

Sumber : goriau.com

 
Support : Indragiri
Copyright © 2011. Indragiri News - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger